Dia Milikku.

Dia Milikku.

  • WpView
    Reads 189
  • WpVote
    Votes 21
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Aug 30, 2020
"Oke" Hanni memutuskan untuk mengikuti kemauan pria tersebut "Kenapa?" Tanya Hanni,dia tidak tahu siapa pria ini karna ia memakai masker hitam dan Hanni juga bingung apa motifnya mengajak Hanni ketempat yang sepi. Pria itu pun membuka maskernya dan berujar "bolehkah aku meminjam uang mu?,uang ku tertinggal" "APAKAH INI JUNG-hmffttt" Teriakan Hanni pun terpotong karna dibekap oleh pria tersebut "Ya ini aku,Jungkook" Seru Jungkook "Wah mimpi apa aku,sehingga bertemu denganmu" Ucap Hanni terbengong "Jadii..,apa kah boleh aku meminjam uang mu?,uang ku tertinggal aku akan menggantinya nanti" Tanya Jungkook sekali lagi "Bisa,tapi masalahnya bagaimana kita bertemu lagi?" "Minta nomor ponsel mu,jika ada waktu luang aku akan mengabari mu"
All Rights Reserved
#35
ipurpleyou
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • WHY DOES MY BROTHER HATE ME?  [REV] √
  • Complicated (Season_1)
  • Rehabilitation ( VKOOK / TAEKOOK )
  • Tomboy Girl And Artist [Collab Story]【COMPLETED】
  • Can You Came Back To Love Me : Eunkook
  • Kookie and Taetae 2 || KookV ✓
  • Feeling (Jjk - Iny) [Complete]
  • Thank You|Kookv] END
  • nyaman-jjk
  • Tacenda - j.jk

⚠️DALAM TAHAP REVISI ⚠️ [SUDAH TAMAT] FOLLOW TO READ READER!!! Sejak kepergian kedua orang tuanya dalam sebuah kecelakaan tragis, kehidupan seorang gadis muda berubah menjadi mimpi buruk. Ia tinggal bersama ketujuh kakaknya-orang-orang yang seharusnya menjadi pelindung dan penghibur, namun justru menjadikannya kambing hitam atas kehilangan mereka. Tanpa bukti dan tanpa alasan yang masuk akal, ketujuh kakaknya menuduhnya sebagai penyebab kematian orang tua mereka. Hati yang dulu penuh kasih berubah menjadi bara amarah yang terus membakar, menciptakan jurang dalam keluarga mereka. Gadis itu hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah yang tak pernah ia pahami, terpenjara oleh luka yang ditinggalkan oleh keluarga sendiri. "Apa salah ku?" ucapnya dengan suara lirih, tak mengerti mengapa ia harus menanggung semua ini. "Oppa, maafkan aku... hiks." "Arghhh! Jangan siksa aku lagi!" teriaknya dalam ketakutan, tubuhnya gemetar setiap kali langkah kaki para kakaknya mendekat. "Oppa... tolong aku... bantu aku... hiks..." "Eomma... Appa... aku rindu... bawa aku pergi... hiks..." Hanya rasa rindu yang menjadi temannya setiap malam. Rindu akan pelukan hangat sang ibu, dan suara tenang sang ayah. Di tengah gelapnya kebencian yang terus membayangi, apakah masih ada secercah harapan untuk gadis kecil itu menemukan cahaya dan kasih yang hilang?

More details
WpActionLinkContent Guidelines