LUCID DREAMS

LUCID DREAMS

  • WpView
    Reads 29
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, May 28, 2020
Dia cantik? bahkan bisa dikatakan dia sangat cantik. Dia pintar? bahkan kemampuan otaknya bisa dikatakan jenius. Dia sempurna? tidak, dia tidak sempurna. Kenapa dia tidak sempurna? karena semua orang pasti punya kekurangan masing-masing. Gadis yang biasa dipanggil dengan sebutan "PUTRI TIDUR" itu suka sekali tidur dimana pun dia berada, jika dia merasa nyaman pasti dia tidur. Dan kisah akan dimulai dimana semua orang memuja pangeran tampan tapi "PUTRI TIDUR" itu malah asik dengan dunian nya sendiri. **** Ayo buruan dibaca Semoga cerita ini dapat mewakilkan bagi para penghalu didunia wattpad hehe.
All Rights Reserved
#189
pemalas
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Secretly Looking at You (END)
  • Takdir Bersama Kita ! (REVISI)
  • Eavesdrop [TAMAT]
  • Hi, Pak Dosen!
  • Seven Crazies [Re-publish]
  • 41 HARI
  • PETRICHOR [END] ✓
  • Roommate With Benefits
  • ON SIGHT (Completed)
  • Persona

"Ich liebe dich, Bapak Ridan." Tanpa malu, Anya mengucapkan hal itu. Ridan yang mendengarnya dibuat tertegun. Pasalnya, gadis remaja itu mengucap kata cinta padanya--guru yang memiliki perbedaan usia nyaris 20 tahun. "Dia lagi latihan buat drama, Pak," sahut Apin yang muncul dari belakang, langsung membekap dan memiting leher Anya, kemudian menyeretnya pergi. "Ada tugas dari guru Bahasa Indonesia." Pian merasa harus ikut andil untuk menghentikan tindakan Anya yang tiba-tiba itu. "Temanya ucapan kasih buat guru, sepertinya Anya salah paham sama penjelasannya. Permisi, Pak," jelas Pian yang bergegas pergi menyusul Anya dan Apin. Pipit yang berada di belakang mereka memandang Ridan dengan tajam. Ridan menghela napas, mulai lelah berurusan dengan siswa julid yang satu ini. "Kamu mau ngomong apa, Vitra?" "Makanya, Pak, cari pacar. Masa ditembak sama anak SMA," kata Pipit sebelum berlalu pergi dengan kedua tangan berada di saku celana. Ridan hanya bisa mendengkus dengan mulut terbuka. Sepertinya ia harus meninjau ulang keputusannya pindah ke SMA Merpati yang terasa seperti sebuah kesalahan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines