Di Ujung Kata

Di Ujung Kata

  • WpView
    Membaca 27
  • WpVote
    Vote 5
  • WpPart
    Bab 2
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sel, Jul 28, 2020
Kata orang berbicara pada orang lain tentang kelemahan diri tidak semua benar-benar ingin mendengarkannya, benar semua itu memang benar adanya. Dari itu semua kelemahan yang tercipta karena kemalangan hidupku kutulis dalam setiap untaian kata. Setiap untaian katanya tidak ada yang indah dan aku tidak percaya dengan kata yang indah. Seorang menatapku "aku ingin menjadi penutup yang indah di ujung tulisanmu" Aku tertaws sinis "aku tidak percaya, semua manusia sama. Pergilah jangan menulis luka dalam untaian terakhirku" Orang itu menatapku dengan tajam "tidak semua orang itu sama" desinya. ---- Tentang seorang perempuan menuangkan setiap sendu dalam kehidupannya dalam tulisan tidak ada untaian kebahagiaanya kareana ia sendiripun tidak percaya. Namun kamu hanya perlu percaya mudah bagi pemilik semesta ini mengubah segalanya dalam satu detik.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#180
manis
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Sudut Luka Nazea
  • Dunia Alana
  • Alenara; Living in a Fairy Tale
  • Buku Ini Gak Konsisten, Tapi Ya Sudahlah
  • Bukan Kita D.A.N
  • Mahligai Sunyi
  • »The Love Behind Secrets!
  • Air Mata Cinta

"ketakutan terbesar seorang anak adalah perpisahan orang tuanya. Kehilangan mama dan papa sama halnya dengan kehilangan seluruh napas. Enggak ada mama sama papa rasanya sunyi dan hampa, rasanya berkali-kali lipat lebih sakit dari apapun. Dunia juga terasa sudah tidak berarti." ~Queenza Nazea Azalea ˚₊‧꒰ა☁️☁️☁️໒꒱ ‧₊˚ Di ajarkan melangkah, meski tertatih-tatih dan berujung jatuh. Di latih menapaki tangga meski berulang kali terhenti karna lelah. Bagi nazea, hal yang paling menyedihkan adalah ketika dihadapkan dengan kehancuran keluarga. Nazea benci perpisahan. Karena nazea tidak suka di tinggalkan. Nazea benci sendirian, karena nazea kesepian. Namun, apa yang sudah retak, akan tetap pecah. Pada akhirnya, meskipun nazea tidak suka, nazea harus menerima. Ada yang mengangkat tangan tinggi-tinggi seraya menjerit tak sanggup, ada yang menyembunyikan kepedihan sekuat mungkin sembari terus menerus mengulas senyum. Karena hanya diperuntukkan dua pilihan, bertahan atau menyerah? Atau lebih tepatnya, mampukah berdiri di atas ubin keikhlasan? "lagi, dunia kembali mempermainkan hidupku. Namun, sampai kapan?"

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan