WISANGGENI

WISANGGENI

  • WpView
    Reads 1,898
  • WpVote
    Votes 157
  • WpPart
    Parts 40
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Feb 14, 2021
"aku suka angka!" Ujar Wisang dengan tempo cepat sambil tiba tiba mengarahkan wajahnya padaku. Dan benar aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengulas senyum saat mendengar mantra dari Wisang. Pipiku terlihat memerah di spion motor milik Wisang. Aku sangat malu dengan Wisang kali ini. Wisang menarik kepalanya dan menjauh dari wajahku. Ia juga sama mengulas senyum dan menertawaiku yang entah sejak kapan membeku dibawah tawa semesta. Aku suka Wisang dari segala segi penciptaannya. Wisang yang bertubuh gagah. Berbadan tinggi. Bermata elang. Ber alis tebal. Wisang yang bergigi kelinci. Wisang yang berhidung mancung. Wisang yang pundaknya nyaman. Dan Wisang yang punggungnya membuat banyak tanya. Aku suka Wisang dari segala sisi nya. Wisang yang aneh. Wisang yang begitu menyebalkan. Wisang yang tiba tiba menjadi baik. Wisang yang selalu mematikan dengan cengiran tak berdosanya. Aku suka Wisanggeni dari segala yang dimilikinya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • "ARGON" Untukmu Bidadari Hatiku
  • Because I'm Stupid (End)
  • 𝙺𝙴𝚃𝚄𝙰✔
  • Belia & Keandra (END)
  • Gardenia | END
  • U'RE MINE [END]
  • NYAMAN [Proses Revisi]
  • 𝕭𝖚𝖐 𝕭𝖔𝖘 𝕲𝖗𝖆𝖓𝖙𝖍𝖆 [ ON GOING ]
  • KOMAR.

semua kisahku bermula saat pertama engkau hadir dihadapan mataku. wajah itu tak pernah hilang dari bayangan anganku. selalu menghanyut senyummu dalam kalbuku. semua kisah puisi hanya menggambarkan tentang keindahan dirimu. tak pernah bosan tanganku menulis untukmu. tak pernah lelah jemariku melukiskan indahnya parasmu. sinar mentari,tiupan angin,desiran rumput,kemersik daun,kicauan burung,gemercik air, bag menggambarkan pesona indah parasmu. alunan seruling bambu,senduh dentingan gitar, terus mengiringi merdu suaramu dalam relung hatiku. tak pernah lupa selalu terngiang dalam kepalaku " bang Ar!". setiap saat, setiap hari, aku berusaha selalu ada untukmu. menjagamu sekeras apa pun, membimbingmu sejauh apa pun, menuntunmu sesulit apa pun. bagai sepasang merpati yang selalu terbang beriringan, bagai sepasang kelinci yang selalu melompat bersamaan. namun, aku hanyalah akar untukmu. yang menopangmu, menjaga agar kau tetap berdiri.namun, aku hanyalah aliran air untukmu. yang menjadi wadah untukmu berenang semakin jauh. senyummu adalah bahagia untukku, namun tangismu bukanlah sedihku. karena aku harus kuat untuk membuatmu tersenyum sepanjang hari. hingga kau melantunkan suara merdumu "bang Ar!". namun, bagai dentuman guntur di siang bolong, bagai derasnya hujan di panas terik. semua berubah karena ke egoisanku. karenaku, bunga yang indah mekar kini layu dan gugur. karenaku, angin sepoi peniup melodi kini menjadi badai topan yang ganas. yang tinggal hanya dentingan pedang yang beradu, hanya desingan peluru yang memburu. saling membekas luka, menyayat sembilu dalam relung hati. menjatuhkan merpati, membinasakan kelinci, menumpahkan darah di sepanjang perjalanan yang tersisa. kini hanya ada akar tanpa pohon, air tanpa ikan, dan selembar kertas putih. kini yang terbakar hanya amarah yang mengatakan "tolong jauhi aku!".

More details
WpActionLinkContent Guidelines