tears

tears

  • WpView
    Reads 392
  • WpVote
    Votes 38
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jun 28, 2020
"jangan terlalu merasa tertekan, aku hanya ingin kau mencintaiku " ucap fatga menatap dingin "diamlah dan jangan paksa aku, berhenti bersikap egois tuan bilio, apa kau ingin membunuhku secara perlahan? " zana duduk di hadapan fatga sambil menangis sesenggukan, yang di hadapi sekarang adalah GM dari sebuah perusahaan ternama dan kenyataan terpahit nya adalah fatga yang terus berharap mendapat balasan dari seorang zana yang berumur 6 tahun lebih muda darinya, jikalau umur fatga 24 tahun itu berarti umur zana masih 18 tahun fatga daffin bilio, CEO dari sebuah perusahaan bilioentertaiment milik ayahnya yang merupakan pemilik saham terbesar di Asia sudah di tuntut untuk mengurusi perusahaan yang menyeruak mewakili dunia entertaiment asia di umurnya yang masih dibilang sangat muda zana amila gianina adalah anak usia 18 tahun yang masih menduduki kls 12 atau setara dengan 3 sma menjadi sasaran bullying dari teman2 sekolahnya selain seorang penjual kueh di kantin sekolah dy juga bekerja di sebuah club, hanya sekedar mengantar minuman tidak lebih, itu terpaksa ia lakukan karna kondisi memaksanya, ayahnya sakit parah setelah tertabrak mobil saat sedang berjualan kain alhasil zana lah yang sekarang bertanggung jawab penuh atas ayahnya dan juga adik nya yang masih menduduki kls 2 SD ibuny sudah meninggal sejak melahirkan adiknya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Althalan Vs Amore
  • Cracked Love
  • Kisah Seorang Shani CEO Muda Yang Cuek dan dingin ke semua orang (Shani)
  • ALRIN
  • perjodohan? (y/n & jaehyun)
  • dark blue [tutoryim]
  • Alletarez
  • My Soulmate (ZeeDel) ✔
  • nazzera quin aksara ( Slow Up)
  • Say Goodbye [ON GOING]

Jangan lupa follow Ig: ZinniaPeruviana Di hadapan Althalan, seorang wanita berlutut, menggenggam tangannya yang dingin. Amore. Wajahnya pucat, air matanya bercampur dengan rintik hujan yang membasahi pipinya. Perutnya yang membesar menandakan kehidupan yang sedang ia lindungi-anak kembar yang masih belum lahir, darah daging Althalan. "Kamu nggak boleh mati, Alva...!" "Kamu janji bakal ngebesarin mereka bareng aku, kan?! Kamu nggak boleh pergi sekarang!" Althalan terkekeh lemah. Darah mengalir dari sudut bibirnya, tapi sorot matanya masih samapenuh dominasi, penuh kepastian. Tubuhnya gemetar, tapi bukan karena ketakutan. "Dengerin aku, Lova..." "Anak kita... mereka akan lahir membawa darah aku... Mereka bakal lebih kuat, lebih kejam... dunia ini nggak bakal bisa ngelawan mereka." Amore menggeleng, air matanya jatuh lebih deras. "Jangan ngomong gitu, dasar brengsek! Mereka butuh kamu! Aku butuh kamu!" "Amore" Suaranya kini terdengar lebih dalam, hampir seperti bisikan maut. "Jangan takut. Aku udah senang karena mereka sebentar lagi akan lahir, mereka warisan yang jauh lebih besar dari apapun, mereka nggak akan tumbuh sebagai manusia biasa." "Kita akan terus bersama, aku akan selalu berada di sampingmu sayang, jangan menangis seperti itu, lihat mereka tidak senang melihat mommynya menangis! Mereka adalah dua pilar kehidupan, Walaupun aku sudah tidak ada didunia ini aku berjanji, akan terus melihatmu bahagia bersama kedua anak kita sayang!" Hujan terus turun, membasahi wajahnya yang semakin pucat. Aura iblisnya berputar semakin liar, sebelum akhirnya menghilang bersama helaan napas terakhirnya. Althalan, akhirnya berhenti bernapas. Namun, di balik keheningan yang menyakitkan, dia bisa merasakan sesuatu yang lain dua kehidupan kecil yang sedang berkembang di dalam dirinya. Anak-anak mereka. Dengan mata yang masih dipenuhi air mata, Amore menunduk, bibirnya bergetar. "Mereka akan lebih kuat dariku..."

More details
WpActionLinkContent Guidelines