Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.
Reflection

Reflection

  • WpView
    Reads 241
  • WpVote
    Votes 60
  • WpPart
    Parts 14
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jul 12, 2020
"Di rumah lo ada cermin nggak, sih?" Dia menatapku bingung. Seolah pertanyaanku barusan adalah hal yang tidak bisa ia pahami. Aku mengusap lelah wajahku lalu membuang napas kasar. "Lo pernah ngaca, kan?" lanjutku. Dia mengangguk seraya balik bertanya, "Kenapa?" "Apa yang lo temuin di dalam cermin itu?" Dia terdiam, terlihat seperti sedang berpikir. Membuang pandang dariku. Mencirikan sekali jika dia sedikit tidak menyukai maksud dari pertanyaanku itu. Lalu 5 detik kemudian, dia kembali menolehkan wajahnya padaku. Menatapku dengan tatapan sinisnya. "Ya bayangan muka gue, lah! Apaan, sih, lo? Nggak mutu banget nanyanya." Setelah puas memberiku tatapan kesalnya, lalu dia berdiri, hendak beranjak pergi. "Udah ah nggak penting. Lo udah buang waktu 5 menit gue. Gue pulang, bye! Sebelum kakiknya melangkah, aku terlebih dahulu menahannya dengan ucapan, "Cari diri lo dalam cermin itu. Buka topeng lo."
All Rights Reserved
#41
competition
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • I Promise You But Not
  • MFS ✓
  • [NCT DREAM] Seven Boys In My Life || arasweetstrawberry ✔
  • Melody Arthadiesa
  • GEVRONZ
  • Eshal Renjana (Lengkap)✔
  • LOVE STORY QIANARRA
  • Love Affair : My Destiny
  • Perihal Sandwich(End)

Tidak ada yang tak mungkin untuk kita bertemu. Ya, bertemu untuk menentukan siapa yang akan kupilih sejak kau meninggalkanku hanya karena kau merasa mengkhianati sahabat sendiri. Bahkan cemburu dengan sahabat baruku. Sungguh naïf sekali dirimu itu. Melangkahkan kaki di tempat yang sama. Tersenyum tanpa alasan saat melihatku. Dibalik topi ada wajah penyesalan? Aku rasa tidak sama sekali. Bahkan raut sedih pun tidak ada, senyum itu tidaklah tulus sebagai rasa persahabatan yang indah. Sungguh mudah untuk melukai, tetapi sangatlah sulit mengembalikan kepercayaannya kembali. Sebuah ruang menjadi saksi bisu, buku antalogi menjadi saksi bersalah atas semua ucapan kotormu mengenai diriku. Maaf, aku memang berjanji, tetapi tidak padamu.

More details
WpActionLinkContent Guidelines