Nous avons mis à jour nos Directives du Contenu.
Consulte les dernières directives pour continuer à partager des histoires en toute sécurité.
En savoir plus 
Naya's love story

Naya's love story

  • WpView
    LECTURES 82
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Chapitres 4
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication ven., mai 22, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Pagi itu tubuh gadis mungil terbaring dalam kondisi lemah dalam brangkarnya setelah kepulangan dari rumah sakit, kemudian ada notif pesan yang menanyakan tempat sekolahku dan ku ambil benda pipih berwarna putih di sana terdapat chat dari seorang cowok "sekolahmu dimana?". Ku kira itu cuma iseng anak cowok seperti biasanya maka dari itu tak berniat untuk membalasnya setelah sekian detik menit lalu aku menunggu teman sekolahku biasanya kalau jam istirahat mereka selalu vc aku dan menanyakan kabarnya lalu hari itu tidak ada panggilan dari siapapun entahlah mungkin mereka sibuk dengan tugasnya. Di dalam fikiranku aku bermonolog sendiri "dari pada aku nungguin teman yang ngga pasti gitu mending aku bales chat dari cowok tadi apaya" lalu tanpa ragu aku membalasnya "sekolah Tunas Bangsa" dan berkelanjut setiap harinya selalu memberi kabar satu sama lain.
Tous Droits Réservés
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • My Teacher My Husband
  • Badai Tak Berujung [ON GOING]
  • Be a Bad Girl (End)
  • girl's of love
  • IM REYSAL
  • RAJAWALI [REVISI]
  • KEANA
  • Airka: My Queen Bullying

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives du Contenu