My Aunt My First Desire

My Aunt My First Desire

  • WpView
    Reads 7,332
  • WpVote
    Votes 81
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jun 17, 2023
"Hmm, kamu masih tetap sempit dari sejak kita melakukannya pertama kali dulu." Jawab Om Defa. "Sudah tiga tahun sejak itu. Entah berapa kali kita ngelakuinnya. Kamu gombal." "Benar sayang lihat. Ini enak banget." Om Defa menghentakan dengan keras pinggulnya. Tante Elsi berusaha menutup mulutnya agar tidak mendesah dengan keras. Dengan mata sayu yang terlihat menggoda ia menoleh kebelakang dan mencibir Om Defa. Om Defa menyambutnya dengan mengulum lidah merah muda itu. Sebuah fakta baru yang aku ketahui. Om Defa dan Tante Elsi baru satu tahun ini menikah. Tapi, Tante Elsi berkata mereka melakukannya sudah tiga tahun. Itu tandanya mereka sudah melakukannya sejak pacaran dulu. Memang aku tak menyangka sosok perempuan yang aku liat begitu menjaga tata krama, santun, dan terlihat sopan berpakaian ini meski tak mengenakan jilbab. Bisa melakukan sex diluar nikah dan begitu binal di ranjang. Sejak saat itu. Semua fantasi seksku tak pernah henti membayangkan Tante Elsi. Dan dimulai pada malam itu, pandanganku terhadap Tante Elsi tak pernah lagi sama dengan sebelumnya. Sosok wanita dewasa yang begitu anggun dan seksi dimata ku. Hasrat ku, khayalan nakal ku. Tak pernah lepas dari bayang nya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Girl In White Lingerie (COMPLETED)
  • Love Mistake
  • His touch, Her desire
  • Lonte Vs Gigolo (The Coli Trilogi I) (End)
  • Sweet RomanShit
  • Until I Found You [END]
  • BronSAn

WARNING!!! 21+ (Sudah diperingatkan ya. Jangan ngeyel yang belum cukup usia) *Belum diedit sedikitpun. Penuh gramatikal eror.* "Tidak! Jangan mendekat!" teriakku takut. Aku bersembunyi di sudut ruangan. Cahaya rembulan yang menyisip memasuki jendela melalui sela-sela tirai perlahan memampukan mataku untuk melihat sosok itu. Tinggi dengan tubuh atletis. Ototnya yang terbalut sempurna dengan tiga lapisan tuxedo membuatnya lebih terkesan maskulin. Aku menelan ludah keras. langkah beratnya semakin mendekatiku. "Aku bilang berhenti!" teriakku lebih keras, suaraku bergetar ketakutan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines