SUA
  • WpView
    Reads 21
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, May 29, 2020
Surat yang tak pernah ku sampaikan padanya. Jeritan hati yang tak mampu mengeluarkan suara bahkan bisikannya pun tak terdengar, ku tuangkan semua dalam tulisan ini. Cinta, kasih, sayang, benci, kecewa, sedih, memang perasaan yang harus dimiliki manusia. Membuatmu sulit bernapas, membuatmu selalu merasa tak adil. Dalam rasa pilu terdapat rasa syukur, terdapat nilai berharga yang belum tentu orang lain mendapatkannya juga.
All Rights Reserved
#53
sedu
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Antara Teman dan Teman Hidup
  • Harapan Bunga Terakhir
  • Sehangat Maaf Mentari (Tamat)
  • Ketika Tulisan bercerita?
  • Menyesal Telah Menyakitimu
  • SOLITUDES
  • Another Me
  • Berlutut atau Memohon ? : Lakukan Keduanya
  • Tenggelam Dalam Dasar [END]
  • My Choice Is My Life ( Complete )

Waktu itu, kau hadir dalam hidupku. Membawaku pada harapan yang tak akan pernah terjadi. Mustahil, Mustahil jika hadirku menggetarkan hatimu yang memang sudah beku sejak awal. Perpisahan yang telah terjadi bertahun-tahun tidak membuat perasaan ini hilang. Bahkan setelah perpisahan itu, aku masih menantikan hadirmu. ___________ Di malam yang hening Setelah berpisah sekian lama, kami pun dipertemukan kembali... "Kamu Cio kan?" Tanyaku sangat antusias memastikan jika itu benar Cio, teman masa kecilku. Perlahan senyumku merekah, hati yang dingin terasa menghangat. Secercah harapan timbul dalam hati. Aku ingin hubungan pertemanan kami kembali seperti dulu setelah sepuluh tahun berpisah. Namun, hatiku sudah terlanjur jatuh. Apakah aku mampu mempertahankan status pertemanan itu?

More details
WpActionLinkContent Guidelines