Jejak Fana

Jejak Fana

  • WpView
    Reads 103
  • WpVote
    Votes 37
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 30, 2020
Gimana kalau memang yang kita banggakan hari ini, adalah sebuah akhir dari kepemilikan. Karena memang nggak ada yang benar benar jadi milik kita. Aku kira dia adalah yang teristimewa Tapi ternyata, perkiraan ku benar. Tapi sayang, hanya sementara. Ke-sementara-an yang sudah aku duga duga Ia pergi begitu saja setelah menanamkan janji seribu janji yang hanya sekedar menjadi janji. Kemudian pergi dengan hutang janji itu semua yang mungkin sudah tak ia hiraukan. Semua keindahan yang pernah aku miliki dengannya, ternyata hanya sekedar pernah. Terima kasih telah ada. Hancurku saat itu, adalah kuatnya aku saat ini.
All Rights Reserved
#279
smk
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Chasing A Mirage
  • Been You
  • LOST MY BREATH (ON GOING)
  • You are in my past and my future [END]
  • My Duchess / End
  • INTUISI || ft. Tokuno Yushi
  • {JTPH 1} Janji Tak Pernah Hilang
  • Badgirl Vs Ketos(ongoing)
  • I Missing You (COMPLETED)
  • kiara's dream

Bayangannya menari di tepian cakrawala, seolah menantang realitas untuk mengakuinya. Setiap langkah yang diambil, ia menjauh-seperti fatamorgana yang mengundang, namun tak pernah dapat digenggam. Di persimpangan antara kenyataan dan ilusi, aku mengejarnya. Apakah dia nyata, atau hanya bayangan yang dirajut oleh pikiranku sendiri? Seperti Māyā, fatamorgana dari semesta, dia hadir dalam kelam, berbisik di antara desir angin, menggoda kepercayaanku akan dunia yang kukenal. Hatiku adalah Chakra, roda yang berputar dalam ketidakpastian, menginginkannya, merindukannya, tetapi semakin aku mendekat, semakin ia terurai seperti pasir di sela jemari. Apakah dia wujud atau hanya Smriti, kenangan samar yang dipahat oleh waktu? Aku terus berlari dalam lorong-lorong Samsara, mengulang pencarian tanpa akhir. Jika dia hanya ilusi, mengapa jantungku berdegup seakan mengenalnya? Jika dia nyata, mengapa dunia seolah menolak keberadaannya? Mengejar dia adalah mengejar bayanganku sendiri-sebuah misteri yang hanya bisa dipecahkan oleh keberanian untuk bertanya: apakah yang kurasakan ini nyata, atau hanya mimpi yang tak ingin terbangun?

More details
WpActionLinkContent Guidelines