Perahu Terakhir

Perahu Terakhir

  • WpView
    LETTURE 25
  • WpVote
    Voti 0
  • WpPart
    Parti 5
WpMetadataReadIn corso
WpMetadataNoticeUltima pubblicazione dom, giu 7, 2020
WpInfo
SAGGISTICA
"Jujur nih, dari awal aku udah berniat ngedeketin kamu buat serius, mungkin aku ngomong gini terlalu cepat ya? Tapi ya gimana, aku orangnya ga suka basa basi. Aku juga ga tau kamu sudah punya pacar atau belum , ya nanti terserah kamu aja, aku sampaikan niat ini supaya kamu tau", pesan itu masuk ke ponselku setelah aku sholat magrib. Aku terdiam. Terpaku memandang layar ponselku. Berkali-kali aku baca pesan itu. Apakah ini perahu terakhirku? Ataukah perahu ini hanya akan mampir sesaat?
Tutti i diritti riservati
Entra a far parte della più grande comunità di narrativa al mondoFatti consigliare le migliori storie da leggere, salva le tue preferite nella tua Biblioteca, commenta e vota per essere ancora più parte della comunità.
Illustration

Potrebbe anche piacerti

  • Bukan Istri Bayaran(End)
  • Dinamika Ditengah Arus Waktu
  • I LOVE HIM
  • Would You Be Mine?
  • My Wedding Story
  • Bad Boy VS Cool Girl (END)
  • posessif boyfriend
  • Five Second Minutes
  • Marriage is not in the plans ( Selesai)
  • You Are Different

#Prolog Seorang wanita tengah duduk di single sofa seraya menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Ia memejamkan matanya kemudian menghembuskan nafasnya. Tak jauh dari itu,tampak seorang pria yang berjalan dengan langkah cepat namun terdengar tegas. Mendengar suara langkah kaki itu,lantas wanita itu membuka kedua matanya dan menoleh untuk melihat siapa yang berjalan. Setelah dia melihat pemilik langkah kaki tersebut,senyumannya pun merekah. Ia berdiri dan berjalan menghampiri pria itu. "Bagaimana?" Tanya wanita itu seraya terus mengikuti pria tersebut yang tetap saja berjalan. Pria tersebut duduk diikuti dengan wanita itu disebelahnya. Wanita itu terus saja menatap wajah pria tersebut yang menampakkan ekspresi kesal. "Ayahku belum menyetujuinya." Akhirnya pria tersebut membuka suara. Wanita itu mengeryit tatkala mendengar jawaban yang terlontar oleh pria disebelahnya ini. "Dia bilang,saudaraku belum memiliki pasangan ataupun calon. Kita berdua harus menunggunya hingga dia menikah. Dan aku tidak boleh mendahuluinya." "Lalu bagaimana ini? Kembaranmu itu bahkan belum memiliki calon. Bagaimana dia ingin menikah. Mau sampai kapan kita menunggunya? Sampai anak di kandunganku ini lahir dan semua orang akan tahu bahwa aku hamil diluar nikah karenamu? Keluargaku dan keluargamu akan malu jika hal ini sampai terjadi." Pria tersebut mengusap lengan kiri sang wanita bermaksud agar wanita yang ada disebelahnya tenang. "Itu tak akan terjadi,Sayang. Akan kupastikan jika nantinya adikku itu memiliki calon dan kita berdua bisa menikah." Pria tersebut tersenyum diikuti dengan sang wanita yang juga ikut tersenyum.

Più dettagli
WpActionLinkLinee guida sui contenuti