Miracle's In December

Miracle's In December

  • WpView
    MGA BUMASA 16
  • WpVote
    Mga Boto 3
  • WpPart
    Mga Parte 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeHuling na-publish Fri, Jun 19, 2020
[Follow author terlebih dahulu sebelum memasukkan cerita ke perpustakaanmu agar dapat melihat versi lengkapnya:'v] Pertemuan kedua insan yang menyatukan mereka dalam hubungan persahabatan, justru menjadi sebuah malapetaka. Persahabatan seorang wanita dan laki-laki? Kata orang itu tidak dibenarkan adanya. Karena salah satu atau bahkan keduanya akan timbul perasaan cinta. Dan memang benar, itu terjadi. Namun cinta itu tertutup oleh benci yang memenjarakan mereka. Benci hingga tidak sadar cinta yang sesungguhnya telah tumbuh namun dikesampingkan. Hingga ketika penjara benci itu terbuka lebar, dan kedua insan itu berpisah. Cinta mereka terasa memberatkan. Benci sudah berlalu. Namun semuanya terlambat. Cintanya sudah tidak bisa dilihat lagi. Cintanya sudah tidak bisa didengar lagi. Lantas yang ada hanya sesal yang mendalam. Miracle's In December
All Rights Reserved
#493
nerd
WpChevronRight
Sumali sa pinakamalaking komunidad ng pagkukuwentoMakakuha ng personalized na mga rekomendasyon ng kuwento, i-save ang iyong mga paborito sa iyong library, at magkomento at bumoto para lumago ang iyong komunidad.
Illustration

Magugustuhan mo rin ang

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • SOUL HORROR  (True Love)
  • DEAR LAURA (ON GOING)
  • SECOND LEAD
  • Arsyilazka
  • What Brings Love?
  • Good Heart Good Feeling [END]
  • Winter
  • Nemesis
  • Menara Awan - COMPLETED

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

Karagdagang detalye
WpActionLinkMga Alituntunin ng Nilalaman