FRIENDS WITH BENEFITS

FRIENDS WITH BENEFITS

  • WpView
    Reads 65
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Aug 10, 2020
"Kenapa sih, kisah cinta gue enggak ada yang benar?! Semua pasti gagal!" Keluh Ptrivia Johana. Gadis berusia 16 tahun yang baru saja memasuki masa SMA-nya. Ia yakin, masa SMA akan berbeda dengan masa SMP. Iya yakin, yakin seratus persen, ia akan memiliki pacar! Bagai memohon pada bintang jatuh, harapannya memiliki boyfriend sepertinya akan terkabul. Bersahabat dengan teman yang ditakdirkan menjadi partner sekelompok selama satu tahun, sampai lulus pun mereka ditakdirkan sekelas, membuat Via kembali berharap akan jadian dengan sahabatnya itu. Tapi, ia pun ragu. Akankah persahabatan mereka berlangsung langgeng atau malah hancur karena berpacaran? Siapa yang akan mendukung Via berpacaran dengan sahabatnya? Akankan orang-orang malah membencinya karena Satria -sahabatnya itu -merupakan laki-laki yang banyak penggemarnya di sekolah?
All Rights Reserved
#171
ttm
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Bawa Aku Pulang (End)
  • Bad Girl vs Cold Ketos [Sudah Terbit]
  • KANARA [COMPLETED]
  • Tentang Kita
  • Struggle✔
  • Lantas (END)
  • GeVania [END]
  • AYDEN ALFINO
  • Cool Ketos💣[End -- Sudah Terbit]
  • Eramnesia

By a True Story Tentang dua anak muda yang menghabiskan waktunya bersama di masa putih abu-abu. -- Ponselku bergetar. Layarnya menyala terang. Nama Widya muncul di sana. "Za. Belum tidur?" Tanyanya dalam pesan itu. Aku melirik jam yang terdapat di sudut kanan atas layar ponsel, mendapati kini sudah jam dua pagi. "Belum, kenapa, Wid?" Aku bertanya balik. "Temenin gue teleponan dong! Gue enggak bisa tidur, nih." Sebenarnya, walau berada di kamar, aku sedang sibuk bekerja dengan komputerku. Namun, sejak mengenalnya delapan tahun lalu, aku selalu saja tidak bisa menolak permintaannya. "Oke." Balasku singkat sebelum akhirnya ponselku berbunyi, ada telepon masuk darinya. "Masih kerja?" Terdengar suaranya di sebrang sana. "Udah selesai, kok." Aku terpaksa berbohong. Padahal, aku mengesampingkan pekerjaanku untuknya. "Kenapa? Kok susah tidur? Emangnya mikirin apaan?" "Enggak tau, nih. Akhir-akhir ini, rasanya susah banget tidur cepet." "Lu kebanyakan tidur siang kali? "Bisa jadi, sih. Soalnya gue tidur bangunnya agak siang. Hahaha. Omong-omong, gue ganggu, enggak?" "Ganggu? Enggak, kok." "Emang lu lagi di mana, Za?" Tanyanya. "Di kulkas." "Hahaha." Ia tertawa. Aku selalu suka mendengar tawanya. "Serius ih! Lu lagi di mana?" "Di rumah, Wid. Kenapa, sih?" "Gapapa, nanya aja." Balasnya. "Oh iya, selain kerja, lu sibuk apa lagi deh akhir-akhir ini, Za?" Tanyanya padaku. Entah apa jawabanku atas pertanyaan itu. Yang jelas, aku bicara dengannya cukup lama. Mulai dari membicarakan soal kesibukan selain pekerjaan, sampai akhirnya membicarakan masa-masa SMA, dulu. Iya, Widya adalah temanku saat masih SMA. Aku mengenalnya sejak delapan tahun lalu. Aku ingat bagaimana aku mulai mengenalnya waktu itu.

More details
WpActionLinkContent Guidelines