what a merried?

what a merried?

  • WpView
    Reads 3
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, May 29, 2020
Aku pernah berpikir inikah tahap yang mungkin lebih dari kata bahagia, Apa ini adalah kesempurnaan? Aku jatuh cinta , lalu kami menjalin hubungan , dia melamarku dan terkahir dia mengucap janji dihadapan Tuhan , Dia menikahi ku , menikahi keluarga ku dia melengkapi aku dan hidupku . Setiap bangun tidur aku selalu bersyukur melihat bagaimana wajah lelapnya sangat menenangkan dan berharap aku akan melihat sampai esok saat bangun , esok nya lagi dan berharap sampai tak terbatas . Tapi aku lupa , aku terlalu serakah , aku lupa bahwa kesempurnaan hanya milik Tuhan , dia , aku dan semua keadaan ini hanya sebuah kiasan semu, dan akan kembali ke keadaan sebenarnya . Keadaan bahwa kami terlalu rumit , bahwa kami hanya menetap sementara di atap yang sama , dan dalam keadaan terikat dimata hukum dan negara .
All Rights Reserved
#99
merriedlife
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Don't call it love!
  • Halycon
  • Kesempurnaan Cinta #4✔
  • My Lovely Heart
  • pernah yang tak kan terulang kembali(love story from the author)
  • Learning in Progress (Boboiboy x Yaya)
  • Sepasang Sepatu Tanpa Arah [END]
  • Pulchra Tempora
  • My Perfect My Really Delusion
  • I'm Into You

Semesta rasanya tidak berpihak pada Cyntia. Tidak hanya perusahaannya yang sedang berada dibawah roda kehidupan, tetapi neneknya sakit dan terus memaksanya menikah. Orang yang ia cintai dan mencintainya pun hilang tak ada kabar. Tak ada pertolongan rasanya. Pada akhirnya pilihan terburuk muncul. Ah, mungkin tak bisa disebut pilihan. Ia harus melakukan itu dengan terpaksa. Pria yang melukiskan kehidupan kelamnya pun muncul. Konyol rasanya saat pria itu mengajaknya menikah. *** Aku tak tahu apa itu cinta. Bahkan, saat ini bagiku itu satu kata yang abstrak luar biasa. Baginya rasa yang terasa itu cinta, tetapi mengapa rasanya merusak jiwa raga. Bagiku itu bukan cinta, melainkan suatu rasa yang amat hampa. Akhirnya satu kata menjadi beda makna. "Bukankah kau sangat membenciku?" Tanyaku. Ia diam, tanpa menatap mataku. Secara tak sadar aku tersenyum sinis padanya dan aku berusaha menahan rasa kesalku. "Apakah melemparkan susu basi ke wajahku adalah bentuk rasa suka?" Aku mengungkit masa lalu. Matanya pun mulai menatap mataku. Aku takut dengan wajah itu. Di bawah meja tersembunyi tangan gemetarku. Mataku berpura-pura tegar saat bertemu matanya itu. Aku berusaha bicara meski lidahku terasa kelu. Aku berusaha berdiri tegak meski kakiku tak berdaya. Waktunya pergi dari hadapannya. Aku akan katakan terakhir kalinya. "Jangan sebut itu cinta!" "Aku melamarmu bukan karena cinta. Bukankah, seharusnya kau yang memohon padaku agar kita bisa memanfaatkan satu sama lain?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines