Moonlight School

Moonlight School

  • WpView
    Reads 46
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jul 8, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
----- Sinopsis ------- Rachel Jeane Tifanny, remaja Berusia 17 tahun yang bersekolah di Moonlight School. Tak hanya parasnya saja yang membuat kaum Adam tertarik, namun kepintarannya juga sangat diakui. Gadis yang penuh Ambisi dan pantang menyerah sangat menggambarkan dirinya itu. Kehidupannya disekolah berjalan normal seperti yang diinginkannya itu, dia mendapatkan berbagai macam sertifikat prestasi sesuai dengan jurusannya, yaitu kesenian. Sampai pada waktu seorang murid baru datang disekolah Moonlight School, murid baru itu bukanlah murid pindahan yang biasa. Dia murid berprestasi dan hampir semua perlombaan yang dia ikuti itu dia menjadi juaranya. Cerita ini tak sekedar hanya ambisi seorang murid untuk mendapatkan nilai, namun ketertekanan seorang Anak yang dikekang oleh orang tua nya untuk selalu menjadi nomer satu. Dan ditambah hubungan tidak sehat antara Rachel dengan pacarnya itu.
All Rights Reserved
#116
tunangan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Rainbow In The Rain
  • ANTARKA [END]
  • ATARICK [OFF]
  • MaYnOr
  • Friendship In Love
  • Catatan Hati Si Perindu
  • Cintaku Berawal Dari Sepatu Terbang  ( Bara )
  • KETOS AGAIN!!
  • Not Queen | SELESAI
  • ABIAN  [END]

"Kamu sengaja kan mau di tabrak sama cowok tampan sepertiku? Terus kamu pura-pura kesakitan dan minta diobatin?" Kevin malah menuduh yang enggak-enggak. "Ciih~Enak aja. Aku gak serendah itu ya, lagian kamu kegeeran banget sih. Aku tadi cuma mau minta tolong aja kok." ia mengotot keras dan mengangkat kedua bahunya. "Terserah!" Kevin memakai kembali helmnya dan menyalakan mesin motornya kembali. "Eh, bantuin dulu kenapa. Jahat banget itu orang, awas aja kalo butuh bantuan!" Jenie ngomel sendirian sambil menendang sepedanya. "Dia kan pinter ya, mana mungkin minta bantuan sama aku. Yang ada juga malahan aku yang minta bantuan dia, tapi itu gak bakalan terjadi. Gak level banget Jenie minta bantuan dia." Jenie memukul kepalanya karena dia bertingkah bodoh dan konyol Hari ini hujan turun lagi, Jenie membawa kursi rodanya berjalan kedepan jendela kamarnya yang tepat memandangi seisi kota. Hujannya lebat, suara gemuruh dan petir mengagetkan gadis itu. Dia mencoba membuka matanya dan tak menutup kedua telinganya, matanya tertuju pada sebuah pemandangan indah diluar sana. Tepat di atas langit pelangi muncul bersama dengan hujan, ini adalah kedua kalinya dia melihat keajaiban itu lagi. Tapi sekarang rasanya beda, dia melihat keindahan itu tanpa Kevin disampingnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines