We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Gerhana
  • WpView
    Reads 19,081
  • WpVote
    Votes 1,682
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Aug 3, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
FOLLOW AUTHOR DULU YA, KAN GRATIS Cerita ini murni pemikiran Author, kalau ada kesamaan alur dengan cerita lain itu hanya ketidaksengajaan. . . . Beberapa orang berharap kalau ia memiliki kembaran, pasti enak bukan? Memakai baju kembar, kemana saja berdua, saling mengejek, saling menyayangi. Tapi, tidak semua orang bahagia mempunyai kembaran. Gerhana Anaku Mahakarsa dan Sinar Ranaku Mahakarsa, mereka kembar, tapi mereka berbeda. Sinar si ramah dan humoris, Gerhana si pendiam. Tapi mereka sama, mereka pintar dalam bidang akademik dan non akademik. Walaupun mereka kembar, Gerhana selalu iri dengan Sinar. Ia tak pernah merasakan kasih sayang yang tulus dari orang tuanya, berbeda dengan Sinar yang hidup dengan kaih sayang. Gerhana dan Sinar sama bukan? Mereka kembar, mereka pintar, tapi kenapa hanya Sinar yang di perioritasnkan oleh orang tuanya? First update : 30 Mei 2020
All Rights Reserved
#64
rembulan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Eliinaa
  • Kanaya & Devano [END]
  • DIFFERENCE OF TWINS
  • ESCOGER : Memilih [COMPLETED]✔️
  • Saranjana [END]
  • From Friends To Love ✔
  • Rewrite My Heart [TERSEDIA DI GRAMEDIA]
  • We Are (not) Twins
  • KANARA [COMPLETED]
Eliinaa

Apa yang terlintas di benak kalian ketika mendengar kata 'Rumah' ? Tempat nyaman dipenuhi kehangatan? Tempat berlindung dari terpaan badai kehidupan? Pasti itu kan yang terlintas di benak kalian? Sayangnya, 'Rumah' yang ada di kehidupanku jauh berbeda dari semua itu. Kehangatan berubah menjadi kepedihan. Tempat yang seharusnya jadi tempat berlindung justru jadi tempat yang paling membuatku tertekan. Aku tidak iri, sungguh. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya ketika dipeluk oleh ayah dan ibu dengan penuh kasih sayang. Sarapan bersama ayah, ibu, kakak dan aku di pagi hari sambil tertawa ria karena masakan ibu yang gosong mungkin? atau jatuh dari motor saat sedang belajar mengendarainya lalu ayah akan datang dan membantuku berdiri, menenangkanku sambil berkata "Gapapa, ini biasa terjadi kok kalo lagi belajar, pernah dengar pepatah 'kamu nggak bakal bisa berdiri kalau nggak pernah jatuh' kan? Nah, kasus kamu sekarang sama kayak pepatah yang ayah bilang tadi." ? atau saat adzan tiba, ayah akan mengajak ibu, kakak dan aku untuk sholat berjamaah dengan ayah sebagai imamnya ? atau mungkin menjahili kakak yang sedang sibuk belajar lalu aku akan dihadiahi kejar-kejar an dan berakhir dengan aku yang terjatuh lalu menangis, kemudian ibu akan datang mengobati lukaku akibat aksi kejar kejar an tadi sambil mengoceh? Benar-benar keluarga impian bukan? Ya, benar, karena itu 'keluarga impian' maka itu hanya akan jadi 'mimpi' saja. Itu tidak terjadi di kehidupan nyata. Ya, mungkin ada, tapi bukan kehidupanku. Sekarang, rumah sudah tidak lagi menjadi tempat ternyaman dan penuh kehangatan seperti yang kurasakan dulu. Kini rumah hanya menjadi tempat berteduh dari panas dan hujan. Aku telah kehilangan, dan rasa kehilangan ini telah membuatku takut untuk memiliki.

More details
WpActionLinkContent Guidelines