FILO-SOFI (Tamat)

FILO-SOFI (Tamat)

  • WpView
    Letture 2,263
  • WpVote
    Voti 534
  • WpPart
    Parti 44
WpMetadataReadCompleta dom, feb 20, 2022
WpInfo
Narrativa
Storie d'Amore
----- Lagi-lagi dijebak, Jari-jari (sok) puitikku tertembak, Terusik, berteriak. Oleh isi kepalamu yang meminta ditelusuri, Oleh gaya bahasamu yang tiada pernah membosankan, Oleh dentuman suaramu yang selalu menyenangkan. Bulan saja bosan, Apalagi merpati yang mahir berpesan, Moga-moga kita akan selalu berkawan, Tuan Pram yang sepi, dan Nona Ara yang tersakiti. ----- Sajaknya sudah selesai, kumasukkan lembarnya dalam kotak pos. Surat yang tiada tahu sampai atau tidak ke penerimanya, kuharap semoga kau ingat dengan pohon rapuhmu. Iya, Aku.
Tutti i diritti riservati
#143
ceritafiksi
WpChevronRight
Entra a far parte della più grande comunità di narrativa al mondoFatti consigliare le migliori storie da leggere, salva le tue preferite nella tua Biblioteca, commenta e vota per essere ancora più parte della comunità.
Illustration

Potrebbe anche piacerti

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • Damira (END)
  • JUST BE MINE [END]
  • Keluarga di Ujung Senja
  • Memories in Moon
  • Dingin Cinta Nauli (END) // Revisi Bertahap
  • Rude Beautiful Girl [Sudah Terbit]
  • Cinta Berbalut Puisi
  • Langit Pemisah【END】[Sudah terbit]

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

Più dettagli
WpActionLinkLinee guida sui contenuti