Saksi Kehancuran

Saksi Kehancuran

  • WpView
    Reads 273
  • WpVote
    Votes 57
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jun 10, 2020
"Menggenggam yang berakhir mengenang. Rindu yang beriringan sendu. Tertuang apik dalam setiap abstrak tulisan. Tetaplah menemaniku dengan membaca sajakku, menyemangatiku dengan 'tak meninggalkanku. Jika mengecewakan, papah aku dengan kritik membangunmu. Aku ada, menyuarakan anak yang rindu akan rumah nyata. Jadi, kumohon temani ceritaku" . . -Anak yang terlahir dari keluarga patah berhak punya cerita dan mimpi yang indah. Jangan dipatahkan hanya karena struktur keluarganya yang berantakan- Salam cinta dari penulis : Dzochra Miltaz Yaoumiel
All Rights Reserved
#22
sajakku
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • MENCINTAIMU, SEINDAH TUHAN MENCIPTAKANMU
  • Auzi's second life
  • RUMAH KITA
  • RUMAH KECIL ITU by : Plavana
  • Rumah untuk Hatiku [SELESAI]
  • Dear Imamku
  • Eliinaa
  • Pull Me Out!
  • New Possessive Family

Aku percaya cinta adalah sebuah pelukan hangat, bahkan di tengah gemuruh hujan. Tapi siapa sangka, pelukan yang sama kini meninggalkan dingin di tubuhku? Kamu meninggalkanku, dan aku tak pernah siap untuk kehilanganmu. Kehilanganmu bukan sekadar perginya seseorang dalam hidupku. Kehilanganmu adalah tentang diriku yang kian merapuh, bagian-bagian dari diriku yang tercerai-berai, seperti serpihan kaca yang tak tahu bagaimana akan kembali utuh. Aku mencoba menulis surat untukmu, berharap kata-kata bisa menggantikan kehadiran yang hilang. Namun, setiap huruf yang kutulis, hanya menambah luka, mengingatkanku pada rindu yang tak akan pernah sampai kepadamu. Mungkin, mencintaimu adalah keindahan sekaligus kutukan. Sebuah hadiah yang diiringi keperihan tanpa akhir. Dan di sinilah aku, yang dalam diam melangitkan namamu. Untukmu, yang kucintai dengan penuh Namun tak pernah menyadari kehadiranku. Buku ini sengaja ditulis untuk nama yang selalu kulangitkan namun enggan untuk menyambutku, yang hadirnya pernah membuat duniaku mekar dengan indah, yang kehilangannya membuat diriku merapuh bersama serpihan luka yang ia tinggalkan. Dan buku ini sekaligus dedikasi untuk mereka yang pernah kehilangan, untuk hati yang berani mencintai meski tahu akan terluka. Karena di balik setiap tetesan air mata, selalu ada cerita yang layak untuk diceritakan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines