Secha

Secha

  • WpView
    Reads 22
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 30, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Namaku Widya Adista tiambun, seorang dokter spesialis ginjal. Tinggal di Jakarta bersama adik sepupu secha ladina tiambun. Tiambun adalah nama keluarga kami. Secha ikut aku ke Jakarta saat umur dia 5 tahun. Ia memutuskan untuk ikut dan tinggal disini. Sekarang usia gadis kecil itu 11 tahun. Ia masih sering bermanja dan kadang pola makannya juga perlu di perhatikan. Kami di Jakarta hanya tinggal berdua. Tapi sudah punya bekal yang cukup. Cafe secha adalah tempat yang sengaja aku bangun untuk adik sepupu ku. Yang sekarang sedang diurus oleh 3 karyawan kami. Cafe secha aku bangun sejak usia gadis itu 7 tahun. Ia gemar memakan cake Green dan pasta. Jadi aku buatkan cafe itu sewaktu-waktu secha bosan d rumah. Karna tugas ku sebagai dokter itu sedang banyak sekali. Aku bukan hanya bekerja dirumah sakit Jakarta. Tapi aku harus, sesekali memeriksa rumah sakit yang dibangun oleh keluarga kami. Letaknya Bogor. Rumah sakit tiambun itu dibangun oleh nenek kami. Dulu ia seorang bidan dan berniat membangun rumah sakit untuk para dokter yang sudah mencari kerja. Awalnya rumah sakit itu hanya bangunan kecil. Setelah aku dan sepupu ku sudah bisa mencari duit sendiri. Baru kami membesarkan bangunan rumah sakit ini. Dan Alhamdulillah sekarang sudah terkenal di kota Bogor.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tentang Kota Ini
  • 5 Criteria To Be My Boyfriend
  • Jejak wasiat kakakku
  • Pretty Careless
  • ANDAI AKU PUNYA KESEMPATAN LAGI (TAMAT)
  • RIANA
  • Married For Stimulate
  • May I Love You?
  • SENJA yang mendung...

Hari ini, Ayah membawa kami pergi dari Ibukota dan memilih kota Yogyakarta sebagai tempat singgah sementara; katanya. Tepatnya di Rumah Oma yang terdapat keluarga besar yang dari dulu tinggal di sana. Canggung, banyak berpikir buruk tentang mereka karena sikap yang diperlihatkan. Di Jakarta saja Aku dengan Ayah, Bunda dan ketiga Adikku saja tidak memiliki hubungan yang begitu dekat. Apalagi di sini? Semakin asing dan terasa diasingkan. Namun, sepertinya mata dan hatiku sedang tertutup rapat selama di kota ini. Aku menganggap Yogyakarta bukanlah tempatku. Aku tidak bisa ada di sana. Apa kalian juga berpikir seperti itu? Pasalnya, ada beberapa manusia yang kutemui di sini, salah satunya si manusia itu. Dan kembali ke hal utamanya, mata dan hatiku sedang tertutup kala itu. Semua akibat terlalu gelisah mengenai rumah besar Oma ini, tentang segala yang berada di dalamnya. [[Cerita ini sedikit mengulik tentang perasaan seorang remaja perempuan yang mendapat peran sebagai kakak pertama. Dunianya hanya penuh dengan dirinya sendiri; fotografi salah satu di dalamnya. Namun, selalu terbesit dalam hatinya untuk berbicara pada dunia. Ia ingin lebih dari ia yang sekarang, ia selalu merasa tak pernah menjadi seorang kakak, ia tak pernah merasa menjadi sesosok teman, ia hanya ingin seperti manusia lain yang terlihat biasa saja dengan manusia lainnya. Tentu ingin menjaga keluarganya, bukan dengan tetap bungkam. Ia ingin bersuara dengan berjuta makna katanya. Namun, apakah bisa? Rasanya tidak kalau ia masih membuka mata dan hatinya untuk dunia; terutama orang-orang yang ia temui di Yogyakarta.]] Update setiap JUMAT👀

More details
WpActionLinkContent Guidelines