Residu Hati

Residu Hati

  • WpView
    Reads 122
  • WpVote
    Votes 27
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jun 6, 2020
Kamu boleh Pergi tapi biarlah Kenangan di Hati. Haiii balik lagi dengan kisah Naina. Sebenarnya kisah ini simple. Tentang Naina yang belum bisa move on, tapi usia dia udah 25 tahun belum punya calon apalagi ibunya ingin segera nikah--Nikah sama orang yang tajir biar hidup lebih bahagia. Definisi cinta bagi Naina bukan sekadar nikah punya anak, tapi bisa tinggal bersama orang yang ia cintai. Bagaimana selanjutnya.... Terus mendukung autor dengan kasih vote dan comment ya! ⏺️⏺️⏺️⏺️⏺️⏺️⏺️⏺️⏺️⏺️⏺️⏺️⏺️⏺️ Halo teman yang udah baca makasih banyak ya. Untuk beberapa hari ke depan Hiatus sementara karena ada projects baru. Jangan rindu ya. Rindu itu berat semoga bisa bertemu lagi setelah proyek selesai. Tapi aku masih aktif akunnya. :)
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Cinta Di Teras Surga ( SELESAI )
  • Garis Takdir Adinda (END) ✓
  • Akhir Kisah [SELESAI]
  • Romansa Mayor [ TERBIT ]
  • ABOUT LIFE
  • Amanah & Cinta 💓 (END)
  • My Love is on Paper
  • Selamat Jalan Haikal (Lengkap)
  • Nadi Yang Menghidupkan (TAMAT) sudah terbit, Full Part
  • Rinai

Malam ini, beberapa hari setelah aku kembali dari Arab Saudi, aku bersama ayah dan ibuku datang ke rumah salah seorang kerabat ayah untuk bersilaturrahmi di hari raya, dalih kami. Padahal, yang sebenarnya adalah kami memiliki maksud dan tujuan yang lebih utama dari bersilaturrahmi di hari raya, yakni untuk melihat gadis yang diinginkan ibu menjadi calon istriku. "Naira. Naira Salsabila nama lengkapnya. Naira ini adalah putri kandung kami." Begitu ayah gadis yang ingin kulihat itu memperkenalkan putri beliau kepadaku, dan kepada ibu dan ayahku, saat Naira, sapaan si gadis berhijab orange muda, menyajikan teh untuk kami yang sedang bertamu ke rumahnya. Naira, gadis berumur dua puluh tahun itu perlahan mulai mencuri pandanganku. Wajah putih lembut. Pipi yang merona. Tatapan matanya yang sendu. Senyum tipis yang mengunci bibir. Sikapnya yang santun. Pandangan yang senantiasa terkurung sungkan. Semua hal yang sungguh indah lagi anggun di mataku tersebut, seakan tak membiarkan hatiku untuk ragu pada niat suciku terhadapnya. Bahkan, sedikitpun keraguan tak ada bayangan akan tumbuh.

More details
WpActionLinkContent Guidelines