Serendipity

Serendipity

  • WpView
    Reads 30
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Oct 15, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
Langit senja hari ini terlihat indah berpadu dengan hamparan rumput hijau di atas perbukitan. Rambut hitam pria itu semakin berantakan saat tertiup angin, matanya yang sayu melihat langit oranye dengan pandangan sendu. Perasaan itu kembali lagi, terasa mencubit jantungnya hingga membuat matanya kembali meneteskan air mata. "Apa yang kamu rasakan?" "Entah, hanya tidak terasa apa-apa." Jawab pria itu. "Kamu merasa hampa, kenapa mengeluarkan air mata? Kamu menyesali sesuatu?" Seseorang itu meliriknya. "Aku... gagal menjaga apa yang seharusnya aku jaga." Bibir pria itu kembali merapat. Ia takut apabila menceritakan hal yang tidak perlu dan membuatnya semakin sakit. Langkahnya terayun, menjauh menuruni bukit dan meninggalkan orang itu sendirian. Seseorang itu mengamati punggungnya dari jauh kemudian tersenyum kecil, "Kamu hanya salah mengambil keputusan." *** Hai, selamat datang! Kalau ada kesalahan, tolong dikoreksi ya! See you^.^
All Rights Reserved
#309
sibling
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Cerita di Balik Senja
  • (Bukan) Keluarga
  • Paradise
  • RUMAH KECIL ITU by : Plavana
  • SELANG (Senja dan Langit) [TAMAT]
  • Shena Aquella {SELESAI}.
  • HARUSKAH KU PERGI
  • A Bittersweet farewell  ( Sudah Lengkap Mari Di Baca)

"Senjanya bagus banget," suara gadis kecil yang sedang berdiri menatap langit yang berwarna oranye dengan angin yang menyapu pelan wajahnya. "Ayah... Ayah lihat! Langit nya bagus banget," Jawab gadis kecil itu dengan senyum bak bulan sabit pada wajahnya. Laki-laki berbadan tegap dengan struktur wajah yang tidak jauh dengan gadis kecil di hadapannya, kini berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan gadis itu. Lebih tepatnya, mereka adalah sosok ayah dan seorang anak. "Senja, Senja tahu, kenapa ayah memberi nama Senja, itu 'Senja'?" mendengar pertanyaan yang tidak bisa di jangkau oleh pikiran anak kecil yang bernama senja itu, ia hanya menggeleng. Lalu, ia bertanya " memangnya kenapa ayah?" Tanya Senja pada sang Ayah. "Karena Senja itu indah, dia juga ikhlas, dan dia selalu mengingatkan ayah pada almarhum ibu kamu, Senja." Senja mengerutkan alisnya, ia bingung dengan apa yang ayahnya ucapkan. "Senja masih nggak tahu maksud ayah." "Nggak papa sayang, saat ini Senja memang belum mengerti. Tapi nanti, Ayah yakin kamu pasti mengerti maksud ayah. Oke Langit Senja?" "Oke ayah!" Senja memeluk Ayah nya dengan erar tanpa sekat sedikitpun.

More details
WpActionLinkContent Guidelines