About Love In Silence

About Love In Silence

  • WpView
    Leituras 99
  • WpVote
    Votos 42
  • WpPart
    Capítulos 3
WpMetadataReadEm andamento
WpMetadataNoticeÚltima atualização seg, jun 1, 2020
WpInfo
Ficção
Temas Sociais
Lelaki dengan badan yang basah kuyup itu menatap gadis didepannya. Untuk pertama kalinya ia menangis karna wanita, mengemis cinta dari seorang wanita dan dengan lirih ia mengatakan. "Aku cinta sama kamu" Duar.. Perkataanya bersamaan dengan suara petir. Gadis didepannya ini terkejut, bukan terkejut karena suara petir. Tapi karena ucapan lelaki didepannya ini. Ia terkejut bukan kepalang. Seharusnya itu menjadi berita yang sangat menggembirakan. Mengetahui bahwa orang yang selama ini dicintai ternyata mencintai. Tapi nyatanya, kini bukan itu yang ingin gadis itu dengar. Kini perkataan itu bagai lelucon, sangat lucu. Apakah gadis itu bisa tertawa sekarang? Hati gadis itu sebenarnya merasakan sakit begitu dalam, saat lelaki didepannya ini mengatakan hal yang tak ingin ia ketahui. Sudah cukup ia merasakan sakit, mengapa lelaki didepannya ini dengan gamblang menyatakan hal demikian, setelah dengan mudahnya ia menorehkan luka untuknya. Dengan wajah datarnya ia menjawab "aku gak cinta sama kakak, pergi, lupain aku dan semoga bahagia" gadis itu membuang muka, seolah didepannya ini adalah benda paling menjijikan yang pernah ia lihat. Matanya memanas, menahan air mata. Tak sanggup ia lebih lama bersama sahabat kecilnya dulu. dengan payung trasnparan yang melindunginya dari air hujan, ia melangkah pergi meninggalkan orang yang dulu sangat ia cintai. Bagai dihantam godam, badan lelaki jangkung itu ambruk ketanah. Lututnya ia jadikan pijakan, ia menunduk menyesal. Dalam derasnya air hujan ia menangis tergugu. Tangan yang senantiasa di samping badannya kini menumpu wajah rupawannya. Ia merasa sudah tak ada gunanya lagi dirinya hidup. Ia menyesal, sangat. Maaf... Zaida...
Todos os Direitos Reservados
#279
rohani
WpChevronRight
Junte-se a maior comunidade de histórias do mundoTenha recomendações personalizadas, guarde as suas histórias favoritas na sua biblioteca e comente e vote para expandir a sua comunidade.
Illustration

Talvez você também goste

  • You're Here, But Not For Me
  • My Quuen is Bad Gril
  • KHALISA🖤
  • Qanita
  • Aku Mati Rasa Perihal Cinta
  • Rasa Dalam Sujudku
  • Aku Dan Sebuah Do'a (Sudah Terbit)
  • C
  • ANA UHIBBUKA FILLAH  (End)

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

Mais detalhes
WpActionLinkDiretrizes de Conteúdo