Dia, wanita cantik yang sukses dengan karirnya sebagai dokter namun memilih menutup hati dan tak membiarkan semua rasa kembali melukai dirinya. Namun harus kembali terhempas dan di ombang-ambingkan dengan kenyataan.
"Tolong, berikan aku kesempatan untuk membuktikan kalau selama ini aku tidak pernah mencintai wanita lain selain dirimu dan ..."
"... memperbaiki semua kesalahan aku di masa lalu. Aku-"
"Cukup!!! Semua sudah terlambat! Kamu nggak tau gimana aku menjalani hari-hari dengan terus berfikir kalau kamu akan kembali. Tapi apa? Kamu nggak pernah sedikitpun ada niat buat kembali ke aku. Padahal kamu tau aku dimana."
"Kei, aku minta maaf. Aku nyesel udah ngebiarin kamu menunggu terlalu lama, sekarang aku di sini, Kei. Aku janji akan nebus semua kesalahan aku, tolong-"
"Setelah semuanya? Setelah aku hampir berhasil ngelupain kamu dan terbiasa tanpa kehadiran kamu, setelah hari-hari sulit yang harus aku lewati karena terus-terus mengharapkan kehadiran kamu dengan gampangnya kamu minta maaf dan bilang mau nebus semuanya. Maaf, aku nggak bisa."
"Tapi, Aku masih mencintaimu, Kei."
Awalnya, kehidupan Keira mulai berjalan mulus bak skenario. Usahanya melupakan goresan luka yang pernah ditorehkan tidaklah gampang, sama dengan mengembalikan gelas yang sudah pecah pada bentuk awalnya. Namun ... setelah 7 tahun berlalu, Tuhan malah membawanya kembali bermain dengan luka yang belum kering itu. Karirnya sebagai dokter malah mempertemukannya dengan seseorang yang membuatnya dalam jurang kepedihan.
Melihat perjuangan untuk kembali meluluhkan hatinya dari lelaki itu membuat Hatinya terombang-ambing, antara cinta dan benci. Lantas, apakah Keira bisa berdamai dengan masalalunya dan memulai hari rabu dengan lelaki yang masih ia cintai itu, atau lukanya semakin dalam dan membuat dirinya kehilangan cinta selamanya?
Story by : Abigailrehuela
[ CERITA DIPRIVASI ]
Semua orang berlomba bergaya, bekerja, berkomunikasi demi mendapatkan satu rasa yang disebut; Cinta.
Hingga lupa pada takdir yang tak selalu menuruti kehendak, sebab ada empunya.
Kalau saja cinta selalu seindah bait puisi milik Penyair ternama, mungkin perjuangan benar tak ada artinya.
Namun, lagi-lagi, konspirasi alam tak pernah memiliki jadwal. 'Ia' berputar semaunya. Mengitari manusia yang tanpa tahu malu terus berangan. Atau ... justru mendukung mereka para pesimis.
Apakah ketika mencintai, kau selalu siap dengan patah hatinya?
Hei, kedua hal itu adalah paket wajib yang tak akan bisa kau pilih salah satu. Percayalah, senikmat apa pun cinta yang kaurasa hari ini, kelak alam akan memintanya untuk menghancurkanmu. Menjadi kepingan raga, rasa yang hancur dan kau menderita.
Apakah menakutkan?
Tidak.
Karena manusia selalu merasa dirinya yang terhebat. Berpikir mampu bertahan dalam duka yang teramat. Berangan mampu mengubah cinta menyiksa menjadi bahagia penuh euforia.
Bukankah manusia itu makhluk paling serakah?
Ia tidak pernah berpikir, kalau segala sesuatu memiliki batas. Kecuali, Sang Pencipta.
Maka, beginilah ritmenya;
Cinta-->Bahagia-->Jenuh-->Luka-->Mengakhiri/Memperbaiki?
Selamat Membaca!
Salam,
Curious_
Ditulis-Diakhiri: Maret 2017