Pembunuhan di Warung Kopi

Pembunuhan di Warung Kopi

  • WpView
    Reads 29
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadMatureComplete Mon, Jun 1, 2020
Semua dimulai ketika seorang laki-laki bernama Dion mengalami sesak napas dan pusing. Sandra, sang pacar yang kala itu sedang duduk di hadapan Dion bersaksi kalau pacarnya baik-baik saja ketika mereka tiba di warung kopi ini. Keduanya sama-sama memesan white coffee. Satu sruput kemudian, napas Dion mulai berat dan wajahnya sepucat buih kopi di cangkir mereka. Sandra mulai panik karena Dion bangkit dari kursi sambil meremas perutnya. Ruben, sahabat kedua orang ini, sedang berada di kamar kecil ketika ia mendengar suara teriakan dari luar yang dikenalinya sebagai suara Sandra. Ia bergegas keluar dan melihat kerumunan penikmat warung kopi yang melingkari meja yang tadinya diduduki Sandra dan Dion. Ia membelah keramaian itu dan mendapati Sandra yang menangis dengan begitu keras sambil memegangi kepala Dion. Dari mulut dan hidung sahabatnya itu mengalir darah segar. Pemilik warung segera menelepon polisi dan meminta semua orang menjauhi tubuh Dion yang sudah tidak sadar. Dua orang lain tiba di warung itu, Xaverius dan Diana. Mereka berdua harus ditahan oleh Ruben agar tidak menyentuh tubuh Dion. Xaverius meronta dari balik bahu lebar Ruben, sementara Diana tidak kuasa menahan lututnya yang tiba-tiba lunglai. Ia meringkuk di lantai, menatap mata hampa Dion. Lima belas menit kemudian, dua orang polisi muncul di TKP, Aipda Ester dan Aipda Arthur. Kini hanya tinggal Sandra, Ruben, Xaverius dan Diana serta pemilik warung kopi tersebut. "Maaf," mulai pria gembul pemilik warung itu, "Saya sudah minta pengunjung lain untuk tinggal di sini sampai polisi datang. Tapi, mereka semua ketakutan dan pergi." "Ternyata ini lebih sulit," ujar Aipda Ester. "Tidak juga," celetuk rekannya. "Pembunuhnya masih di sini."
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Pemburu Harta Karun
  • Bayang Tebing Watu Jaran
  • Episode Teror Kopi Cafe (Finished)
  • My Loneliness
  • Darkness to Death
  • Warisan Gandari
  • Kematian Saat Virtual Meeting
  • [END] High School of Mystery: Cinereous Case
  • Who Is Next ?
  • Light and Shadow

Luffy, Nami, dan juga Chopper bekerja sebagai pegawai di cafe milik Sanji. Nama cafenya adalah cafe baratie. Tempat itu dekat dengan kantor polisi, jadi tak jarang pula ada beberapa polisi yang bersantai disana. Mereka ber-empat akan selalu tersenyum dan menyapa para pelanggan yang datang. Mereka dikenal sangat baik. Lalu, apa mereka hanya sebatas pegawai biasa? Atau mereka adalah seorang kriminal? Hal itu menimbulkan beberapa kecurigaan bagi kepolisian divisi khusus. Di tempat lain, ada sebuah kelompok yang menamai dirinya 'pemburu harta karun'. Gosip para pemburu itu menjadi perbincangan hangat bagi masyarakat. Sebab, selain menjadi pembunuh, mereka juga seorang kriminal yang mencuri 'sesuatu' yang sangat berharga. So, apakah pada akhirnya para pemburu ini akan tertangkap? Apakah para pemburu mempunyai tujuan yang mengharuskan mereka untuk menjadi kriminal? Lalu apa? Para pemburu memahami betul apa yang mereka lakukan salah. Menghakimi seseorang adalah hal yang salah. Tetapi, semua yang mereka lakukan adalah hanya untuk balas dendam dan untuk menyelamatkan orang yang mereka sayangi. Bagi mereka, tidak ada yang salah. Hanya takdir mereka saja yang terlalu kejam. Apapun yang mereka lakukan adalah untuk merebut apa yang sudah takdir mengambilnya. "Aku.. Tidak bisa.. Tanganku kotor dengan darah." Warning! -BL -bahasa semi-baku -karakter hanya milik oda sensei

More details
WpActionLinkContent Guidelines