Asal Jadi Uang

Asal Jadi Uang

  • WpView
    Reads 13
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jun 1, 2020
Arul melongok setelah melihat foto yang ditunjuk Lala dari handphone-nya; ada sebuah kalimat 'Halo calon pacar, udah makan belum?' di atas meja Lala yang diukir menggunakan tipe-x. "Hmm, siapa yang nulis nih, La?" Lala sontak mengeplak kepala Arul, "Heh, kalau aku tau siapa yang nulis, aku gak mungkin minta tolong ke kamu!" "Jadi, lu nyuruh gue nyari pelakunya?" Arul tersentak. "Iyalah, penasaran tau! Kita kan sudah kenal lama dari SMP, aku tau kamu bisa jaga rahasia, jadi aku minta tolong ke kamu." "Ah gila..." Arul sedikit membuang muka, "Dikira gue cenayang apa, gak mau ah, buang waktu aja...." Lala kecewa, "Yee, perhitungan banget sih sama sahabat sendiri!" "Bukannya perhitungan, La... Kalo lu nyuruh gue yang mudah-mudah, kayak tadi nyokap lu nyuruh pasang lampu, atau nyuci piring, atau beres-beres barang okelah, bahkan jadi tukang parkir mau gue, lah ini nyari orang misterius yang entah di mana dia sekarang," jelas Arul. Lala langsung menempelkan jarinya ke mulut Arul untuk menghentikan bacotannya. "Seratus ribu plus makan bakso di kantin gratis selama tiga hari, gimana?" Arul langsung berdiri tegap kemudian menjabat tangan Lala dengan erat, "Oke, deal, gue bantu!" Lala pun sumringah. Begitulah Arul, cowok berponi berantakan dan berhidung pesek yang sangat dikenal Lala akan kemampuannya yang terkadang melebihi manusia normal bila sudah dihadapkan pada sejumlah nominal.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Misi Kalisa (End)
  • I LOVE SEBLAK
  • Hallo, Kak Diandra?
  • Argithan √
  • LALA
  • 36 days with you {saida} [End]
  • My Handsome Devil
  • RAISEN
  • SAD GHOST 6 ✓

"Ngapain lo!" Suara seseorang menyadarkanku, membuatku berbalik lalu menatapnya intens. Cowok belagu lagi. "Menurut lo, gue ngapain disini?" Ucapku setelah satu detik mencoba setenang mungkin. Dia menatap langit langit perpustakaan. Lalu menatapku kembali. "Lo ngadem kan," ucapnya dingin. Dia bukan bertanya, lebih tepatnya nuduh. "Sotoy banget lo!" Ucapku ketus tapi masih kategori pelan. "Aneh aja. Cewek kaya lo meluangkan waktu di perpus, apalagi sekarang nyari buku di rak matematika," ucapnya datar. "Emang kenapa?" Sahutku mulai kebawa emosi. Dia tersenyum miring. "Nggak pantes!" Ucapnya sambil mengeja. Lalu meninggalkanku dengan tersenyum devil. "Kenzo," panggilku berhasil membuatnya menoleh. Risih banget pertama kali manggil namanya. "Keren doang ya muka lo, tapi mulut lo busuk!" Mampus lo! Sakit hati sakit hati lo. Bodo amat dah. "Jadi gue keren?" "What?" Aku shock mendengarnya. "Thanks ya," ucapnya tersenyum sekilas sebelum benar benar meninggalkanku.

More details
WpActionLinkContent Guidelines