Waktu Yang Salah

Waktu Yang Salah

  • WpView
    Reads 333
  • WpVote
    Votes 56
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Aug 19, 2021
Bohong jika ada orang yang ikhlas, saat membiarkan sesuatu yang dipertahankan dengan sekuat tenaga kemudian dirampas dengan gampangnya oleh orang lain. Yang ada berusaha terbiasa atau mungkin berpura pura terbiasa. "Nadine, maaf..." hanya itu yang mampu Bagas ucapkan dari sekian banyaknya kata. "Maaf? Kamu gak perlu ucapin kata maaf kak. Kamu gak salah. Aku yang salah. Seharusnya dari awal aku tau diri kamu gak akan pernah bisa mencintaiku. Aku yang terlalu memaksa" buliran hangat jatuh menetes di area pipi Nadine. Aku berusaha tersenyum. Berusaha agar cairan hangat dari mataku tidak jatuh lebih banyak lagi. Kaki yang menopangku berdiri seakan kaku dan mati rasa.
All Rights Reserved
#870
yogyakarta
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Dokter Spesialis Mantan [ON GOING]
  • Perihal Waktu [ REVISI ]
  • LOVE in SILENCE
  • Nadine
  • Story Stela
  • Diary Zofanya
  • 𝑨𝑹𝑨𝑲𝑯𝑨 [TERBIT]
  • STORY KEISHA (TAMAT)
  • Rayhan dirgantara [End]

"Yang nggak pernah benar-benar selesai, justru yang paling susah dilupakan." - Nayyara Tujuh tahun. Itu waktu yang Nayyara habiskan untuk mencoba sembuh-dari luka yang bahkan tak sempat diberi penutup. Luka yang diam-diam ia bawa sejak bangku kuliah kedokteran, hingga kini menyandang gelar spesialis. Luka bernama Adrian Baskara-mantan yang pergi tanpa kata, tanpa perpisahan. Hanya hilang. Begitu saja. Sialnya ketika ia merasa telah pulih, semesta mengajak bercanda. Sebuah mutasi mendadak menjatuhkannya dari puncak karier di rumah sakit elit Jakarta ke pelosok desa di Jawa Tengah. Desa asing yang lebih percaya ramuan dukun ketimbang resep dokter, lebih patuh pada mitos ketimbang medis. Nayyara datang sebagai penyintas-asing, tersesat, nyaris patah. Tapi ia bertahan. Ia belajar hidup dari nol. Ia kira, itu sudah cukup berat. Sampai... Adrian muncul. Kini pria itu berdiri di hadapannya-dengan senyum sabar, tatap mata yang dulu menenangkan, dan seorang anak kecil yang tak sengaja memanggilnya, "Ayah." Nayyara ingin pergi. Meninggalkan desa ini. Menjauh dari kenangan yang kembali bernyawa. Tapi hati bukan peta yang bisa digariskan lurus-lurus saja. Luka lama belum sembuh, rahasia lama belum selesai. Dan pertanyaan itu terus menghantui: Kenapa Adrian pergi tanpa pamit dulu? Dan... kalau cinta yang lama mati ternyata belum benar-benar terkubur, bisakah Nayyara mencintai lagi-tanpa takut patah untuk kedua kalinya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines