Waktu Yang Salah

Waktu Yang Salah

  • WpView
    Reads 343
  • WpVote
    Votes 56
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Aug 19, 2021
WpInfo
Fiction
Romance
Bohong jika ada orang yang ikhlas, saat membiarkan sesuatu yang dipertahankan dengan sekuat tenaga kemudian dirampas dengan gampangnya oleh orang lain. Yang ada berusaha terbiasa atau mungkin berpura pura terbiasa. "Nadine, maaf..." hanya itu yang mampu Bagas ucapkan dari sekian banyaknya kata. "Maaf? Kamu gak perlu ucapin kata maaf kak. Kamu gak salah. Aku yang salah. Seharusnya dari awal aku tau diri kamu gak akan pernah bisa mencintaiku. Aku yang terlalu memaksa" buliran hangat jatuh menetes di area pipi Nadine. Aku berusaha tersenyum. Berusaha agar cairan hangat dari mataku tidak jatuh lebih banyak lagi. Kaki yang menopangku berdiri seakan kaku dan mati rasa.
All Rights Reserved
#173
selingkuh
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Rayhan: sebelum hati berani pulih
  • Diary Zofanya
  • Rayhan dirgantara [End]
  • STORY KEISHA (TAMAT)
  • Story Stela
  • LOVE in SILENCE
  • 𝑨𝑹𝑨𝑲𝑯𝑨 [TERBIT]
  • You Are Mine [Terbit]
  • Dokter Spesialis Mantan [ON GOING]
  • Bukan Kita D.A.N

Prolog - Luka yang Tidak Bisa Dikembalikan Oleh Wayan Arjuti Mereka bilang waktu akan menyembuhkan segalanya. Tapi mereka tidak pernah benar-benar tahu rasanya patah hati - bukan karena cinta yang ditolak, tapi karena kepercayaan yang dihancurkan dari dalam. Aku pernah percaya pada satu wajah. Pernah membayangkan masa depan yang tenang, rumah kecil, suara anak tertawa di halaman, dan seorang perempuan yang akan duduk di sampingku meski dunia berubah jadi reruntuhan. Tapi tiga hari... Hanya tiga hari setelah aku memutuskan menikah dengannya, semuanya lenyap. Seperti air hujan yang turun deras, menghanyutkan semua rencana, semua harapan, semua rasa. Namaku Rayhan. Dan kisah ini bukan tentang bagaimana aku menjadi hebat. Tapi tentang bagaimana aku belajar berdiri lagi - saat hati sudah terlalu hancur untuk percaya, dan masa lalu terlalu sakit untuk diulang. Aku menulis ini... bukan untuk mengungkit luka. Tapi agar kamu tahu: ada luka yang tidak bisa dihapus, hanya bisa diterima. Dan dari sanalah, kita mulai pulih.

More details
WpActionLinkContent Guidelines