Heart Evolution

Heart Evolution

  • WpView
    Reads 82
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 11, 2020
Perasaanku untukmu sudah tumbuh dan kusadari sedari dulu. Sejak orang-orang dewasa masih menyebutnya cinta monyet. Aku juga mengiyakan itu. Pada diriku sendiri, karena kamu memang tidak pernah tau itu, dan mungkin tidak ingin ikut merasakannya. Di saat kita masih selalu belajar di tempat yang sama, membeli jajanan di kantin sekolah yang sama, bahkan kadang menunggu ayah atau ibu atau kakak menjemput di depan gerbang sekolah. Tapi tetap, di kursi yang berbeda. Lalu pulang masing-masing tanpa menyapa. Jujur saja, dari semua teman sekelas, sesekolah hanya kamu yang tak berani aku sapa begitu saja. Karena aku takut dengan kegugupanku. Tapi jika dirimu, aku tidak pernah tahu karena apa kamu tidak pernah menyapa, meskipun aku jelas ada dipelupuk matamu, bahkan saat pandangan kita tak sengaja bertemu. Mungkinkah rasa ini tetap jadi milikku sendiri? Hingga waktu berjalan membawa kita semakin dewasa. Lalu apakah waktu juga membawa cinta monyet ini menjadi cinta simpanse, lalu membesar menjadi cinta gorilla, atau cinta yang lebih besar lagi. Entahlah... yang ku tahu, besok mataku masih bisa memandangmu di sekolah.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • You're Here, But Not For Me
  • SELEPAS KAU PERGI (END)
  • F E E L I N G ✔✔✔ [Lanjut; Feeling 2]
  • Lovakarta
  • When his name is
  • Complicated
  • ONE MAN✔

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

More details
WpActionLinkContent Guidelines