HELIANTHUS
  • WpView
    Reads 96
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jun 9, 2020
Ini cerita tentang Keira, seorang gadis yang hidupnya serba berkecukupan. memiliki paras yang cantik, pintar dan satu lagi dia tidak ingin dipandang remeh oleh semua orang karena suatu hal. Semua orang yang melihatnya pasti akan menatap iri kearahnya. Siapa sangka justru Keira lah yang menatap iri kepada teman- temannya karena bisa melakukan kegiatan seperti orang normal lainnya. Juga Kaina, seorang gadis yang hidupnya harus mandiri sejak kecil karena dia hanya tinggal bersama neneknya. ibunya meninggalkan sewaktu kecil. Dia kerja banting tulang untuk membiayai sekolah dan juga untuk makan sehari hari. Mereka berdua akan bertemu dan saling melengkapi satu sama lain seperti kisah persahabat yang sangat diidam-idamkan oleh semua orang. Bercampur dengan cerita kisah cinta mereka masing-masing dan juga persoalan keluarga. - Tertanda: Helianthus🌻
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Elegi Rasa : Pergi
  • Point Lumineux [END]
  • PESAN UNTUK RAYAN
  • Tentang Kita
  • Semesta Ingin Aku Bagaimana (?)
  • TERA
  • CHAGRIN
  • Sincere (Nara)
  • IMAGINED [Selesai]
  • Bertahan atau pergi

Kadang menjadi begitu terlambat menyadari sesuatu akan membekaskan rasa sakit yang tak lekang oleh waktu. Saat cerita yang kelewat singkat dilalui menghantarkan pada sakit yang menghantui. Safir sudah merasakannya. Dua kali dalam hidup ia seperti dipermainkan rasa. Nila yang tak mau melihat. Dan Bianca yang pergi pada sesuatu yang tak terlihat. Ketika sepi melanda. Bukannya pada dunia yang luas, hanya pada dunianya sendiri yang tiba-tiba runtuh. Safir merasa begitu buruk di mata Bianca. Merasa begitu lelah di hadapan Nila. Dan malam itu, harusnya ia berusaha lebih keras. Saat si gadis berkata, "Aku pamit pulang, ya." Harusnya Safir membujuk lebih tegas. "Biar aku yang antar." Kenyataannya, Safir menjadi begitu terlambat. Saat rasa itu mulai tertambat. Hatinya justru sakit tanpa ada yang membebat.

More details
WpActionLinkContent Guidelines