"Gazka... we will be forever, kan?" "We will, Helia. Seperti lagu dari penyanyi kesayangan mu. Even in a different life, you still would've been mine, we would've been timeless." Senyum di bibirnya kala menjawab pertanyaanku membuat segala rasa takut yang selama ini berkelana seketika melebur. Hatiku dipeluk hangat setiap mendengar merdu suaranya. Gazka, seorang pria pecinta arom kopi dikala langit memancarkan semburan warna jingganya. Ia selalu menjanjikan dunia dan seluruh isinya padaku. Katanya, hanya ada bahagia yang akan ku peluk. Sialnya, aku terlalu terlena dengan netra teduh dan kalimat manisnya, hingga melewatkan satu kalimat penting, "ππ― π’ π₯πͺπ§π§π¦π³π¦π―π΅ ππͺπ§π¦." Karena aku benar-benar hidup dua kali, namun celakanya ... ia tidak ikut serta bersamaku di kehidupan keduaku. βοΈ π²πππππ πππ ππππππππ πππππππ πππππ πππππ ππππ ππππππ, ππππππππ, ππππππππππππ, πππ ππππ πππππ π’πππ πππππππππ ππππππππ’π. β πz.
More details