Story cover for Another Night by Hana_Fitriyani
Another Night
  • WpView
    Reads 36
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
  • WpView
    Reads 36
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
Ongoing, First published Sep 05, 2014
Malam ini aku menjalani ritual itu kembali. Menatap langit malam sambil menikmati dinginnya udara malam hari. Inilah sebuah kegiatan yang biasa kulakukan jika hati ini, merasa rindu dengan kenangan di masa lalu itu. Entah apa yang kupandang dari langit malam yang gelap itu. Bintang-bintang pun sangat jarang muncul. Tapi entahlah, mungkin hati ini memang membutuhkan kesendirian. Sesekali kurapatkan selimut kecilku yang membungkus badan atas-ku, agar udara dingin ini tidak terlalu menusuk kulitku. Dan, sambil duduk santai aku pun mulai mengingat kenangan-kenangan itu. Kenangan yang sangat ingin aku lupakan, namun nyatanya tetap tidak pernah bisa. Aku pun mulai mengingat wajahnya kembali. Ah, wajah yang sangat kurindukan itu. Sudah berapa lama kita tidak bertemu? Aku.. aku rindu kamu..

Rasanya pipiku mulai basah terkena air mata yang tidak sengaja turun ini. Serindu itukah aku padanya? Aku tidak tau. Kuusap air mataku dan memulai mengingatnya kembali. Dan lembaran masa lalu pun terbuka kembali..
All Rights Reserved
Sign up to add Another Night to your library and receive updates
or
Content Guidelines
You may also like
ADIKARA ELUSIF by blackcurrantbery
40 parts Ongoing
Baca lapak sebelah dulu biar nyambung, baca DeKaNa🔥 "M-maksudnya apa?" Ekspresi wajah yang semula terlihat senang berganti menjadi rawut wajah yang amat tidak disukai, seolah perubahan mimik wajah mempengaruhi suasana hati sang pemilik Perlahan sudut bibirnya ketarik ke pinggir membentuk lekungan senyuman yang terlihat menyeramkan bagi remaja yang berdiri di hadapannya, bahkan bola matanya terlihat bergetar melihat apa yang tengah terjadi di hadapannya. "Hanya seminggu" Kakinya perlahan melangkah mendekati remaja yang sudah membeku di tempat itu, mengayunkan tangannya untuk mengusap puncak kepala yang lebih muda "Sayang sekali, Khai nggak panggil Ayah-" Plak Ia menatap tangannya kemudian menatap anak yang lebih muda di hadapannya dengan alis mata terangkat, berani, sangat berani "L-lo gila" "Lo bawa gue kemana hah anjing?" Ia memejamkan matanya, sudah seminggu ini hatinya berbunga-bunga, namun sekarang api neraka kembali membakar hatinya mendengar lontaran perkataan dari anak muda yang ada di hadapannya. Srett "Kenapa lo diam aja hah?, jawab!, lo bawa kemana gue hah?" Teriaknya dengan nafas tersenggal-senggal karena perasaan marah. Ia kembali tersenyum, mencoba mengusap puncak kepala itu namun tepisan kembali dirinya dapat, oke cukup, ia sudah sangat sabar kali ini, "Askar ternyata nggak guna" Perlahan kaki itu mendekati remaja itu, lalu mengusap paksa kepala itu dengan kuat, dan dalam sekali tarikan ia berhasil membuat tulang tengkorak itu bersentuhan kasar dengan dinding rumah kokoh miliknya "Lo manja banget ya Kai, semua harus gue yang turun tangan" Ucapnya sembari menyeringai melihat ekspresi wajah Kaivan yang terlihat kesakitan sekaligus marah karena tidak bisa melawan.Tubuh itu jatuh telentang di lantai, dan tanpa belas kasihnya, ia menaruh telapak kakinya di atas dada Kaivan yang seketika membuat anak itu meringis sakit karena tak mampu menahan rasa sakit lagi "A-abang" "Kalau udah kek gini, baru manis diliat" 19 April 25
Mimpi-mimpi Kecil dan Seribu Kemarau by sugiryo
42 parts Complete
Malam ini dan seperti malam-malam sebelumnya aku hanya duduk di depan notebook tua andalan keluarga yang sudah tak berbatre karena jatuh hingga pecah. Dan aku, belum bisa mengganti dengan yang baru. Jemariku masih menari-nari di atas keyboard-nya yang beberapa huruf sudah tidak lagi jelas terbaca. Dan itu tak masalah buatku karena Pak Sukarman, tutor mengetik sistim buta yang pernah menggemblengku dengan gayannya yang khas dan tegas hingga aku mahir mengetik tanpa harus melihat huruf di keyboard. Waktu itu, di tahun 1993, aku pernah mengambil kursus mengetik 10 jari. Rupanya aku masih bangga dengan keterampilanku yang satu ini. Suara dengkuran anak-anak dan istriku menjadi teman setiaku yang mampu membuatku fokus pada momen-momen itu. Momen di mana aku sekarang lupa apakah aku dulu pernah menuliskannya. Apakah dulu aku pernah memimpikannya? Sementara waktu terus merangkak tak kenal berthenti. Tidak seperti alat penunjuk waktunya sendiri yang kadang berhenti ketika kehabisan batre. Begitu pula kehidupan ini. Selalu berjalan tak boleh mengenal berhenti. Betapapun rumitnya dan pahitnya kehidupan akan terus berjalan mengikuti setiap lekukan yang ada. Seperti air yang selalu mengikuti bentuk tempatnya. Dan aku akan terus menyusuri semua waktu dan tempat yang pernah aku singgahi dengan notebook tua ini. Di sinilah aku akan memulainya. Pada lembaran pertama yang masih membekas di ingatanku. Lembaran penting yang akan aku buka lebih dulu.
You may also like
Slide 1 of 8
ADIKARA ELUSIF cover
Saat Takdir Menghampiri Kita cover
Senja Yang Tak Kembali  cover
Mimpi-mimpi Kecil dan Seribu Kemarau cover
SELEPAS KAU PERGI (END) cover
lost in the gaze of obsession[𝗛𝗶𝗮𝘁𝘂𝘀] cover
Lembayung cover
SasuHina - Love Story cover

ADIKARA ELUSIF

40 parts Ongoing

Baca lapak sebelah dulu biar nyambung, baca DeKaNa🔥 "M-maksudnya apa?" Ekspresi wajah yang semula terlihat senang berganti menjadi rawut wajah yang amat tidak disukai, seolah perubahan mimik wajah mempengaruhi suasana hati sang pemilik Perlahan sudut bibirnya ketarik ke pinggir membentuk lekungan senyuman yang terlihat menyeramkan bagi remaja yang berdiri di hadapannya, bahkan bola matanya terlihat bergetar melihat apa yang tengah terjadi di hadapannya. "Hanya seminggu" Kakinya perlahan melangkah mendekati remaja yang sudah membeku di tempat itu, mengayunkan tangannya untuk mengusap puncak kepala yang lebih muda "Sayang sekali, Khai nggak panggil Ayah-" Plak Ia menatap tangannya kemudian menatap anak yang lebih muda di hadapannya dengan alis mata terangkat, berani, sangat berani "L-lo gila" "Lo bawa gue kemana hah anjing?" Ia memejamkan matanya, sudah seminggu ini hatinya berbunga-bunga, namun sekarang api neraka kembali membakar hatinya mendengar lontaran perkataan dari anak muda yang ada di hadapannya. Srett "Kenapa lo diam aja hah?, jawab!, lo bawa kemana gue hah?" Teriaknya dengan nafas tersenggal-senggal karena perasaan marah. Ia kembali tersenyum, mencoba mengusap puncak kepala itu namun tepisan kembali dirinya dapat, oke cukup, ia sudah sangat sabar kali ini, "Askar ternyata nggak guna" Perlahan kaki itu mendekati remaja itu, lalu mengusap paksa kepala itu dengan kuat, dan dalam sekali tarikan ia berhasil membuat tulang tengkorak itu bersentuhan kasar dengan dinding rumah kokoh miliknya "Lo manja banget ya Kai, semua harus gue yang turun tangan" Ucapnya sembari menyeringai melihat ekspresi wajah Kaivan yang terlihat kesakitan sekaligus marah karena tidak bisa melawan.Tubuh itu jatuh telentang di lantai, dan tanpa belas kasihnya, ia menaruh telapak kakinya di atas dada Kaivan yang seketika membuat anak itu meringis sakit karena tak mampu menahan rasa sakit lagi "A-abang" "Kalau udah kek gini, baru manis diliat" 19 April 25