Ini bukan kisah tentang pengakuan yang lantang. Bukan tentang cinta yang diumumkan dengan berani. Ini tentang debar yang disembunyikan oleh Aluna. gadis di baris ketiga dekat jendela yang terlalu sering menatap tanpa berani meminta jawaban. Tentang tatapan Raka yang sering ia tafsirkan sendiri. Di dalam keheningan itu, Aluna belajar berharap. Dan Raka belum sepenuhnya sadar. Sebuah pulpen bisa dikembalikan. Sebuah jarak bisa dijaga. Tapi perasaan yang tumbuh diam-diam di antara mereka tidak selalu bisa dihapus begitu saja. Karena tidak semua kisah cinta dimulai dengan suara. Sebagian hanya hidup... di antara Aluna, Raka, dan keheningan yang tak pernah benar-benar selesai.
Más detalles