Hatinya rapuh, namun ia berlagak seakan-akan kuat seperti baja.
Tubuhnya lemah, bahkan hampir tersungkur-tak mampu meniti jalan kehidupan, namun berlagak seakan-akan kokoh tak membutuhkan penopang.
Kebencian. Keterpurukan. Telah memberikan belenggu yang kelam dalam sebuah relung kehidupan.
Sepi, sendiri, dan sakit. Sebuah perasaan yang selalu menghiasi hari-harinya. Sikap acuh, dingin, keras kepala, dan egois adalah caranya untuk menutupi luka.
Kepergian dua orang yang begitu berharga dalam hidupnya, telah memberikan noda hitam dalam setiap lembar kisah perjalanan. Noda hitam itu semakin meluas seiring berjalannya waktu, membuatnya kesulitan beranjak dari gulita kehampaan.
Bahkan, saat ia berada dalam ambang kehancuran, tak ada seorang pun yang sudi mengulurkan tangan. Tak ada seorangpun yang memberikannya kekuatan, atau sekedar kasihan dalam fitrah rasa kemanusiaan.
"Mengapa? Mengapa takdir seakan mempermainkanku? Mengapa takdir merenggut kebahagiaanku? Mengapa takdir membawaku pada jurang nestapa penuh kepedihan? Dimana kebahagiaan yang dijanjikan? Apakah semua hanya bualan?"
Semua pertanyaan akan terselesaikan, dalam setiap detik yang berputar, dalam setiap peristiwa yang terjadi, dan dalam setiap titian langkah menuju akhir dalam sebuah perjalanan kehidupan.
Nadira harus rela mengorbankan perasaanya demi orang lain sementara dirinya ia biarkan terjerat dalam kesedihan yang mendalam tak ada pihak yang harus ia salahkan. Kedilemaan rasa dalam memilih membuatnya semakin berada dalam titik ia tak bisa memilih diantara keduanya, Nadira tak mau salah satunya tersakiti.
"Teruntuk seseorang yang namanya selalu ku sebut dalam doaku semoga kelak takdir indah akan menyambut kita pada jalan yang diridhoi-Nya."- Nadira Syifa Az zahra
🍃🍃🍃🍃