Aku kira, merasakan kehilangan itu cukup sekali, tapi nyatanya aku salah. Aku dibiarkan merasakan kehilangan sekali lagi. Perih. Luka lama masih menganga, tapi semesta kembali menorehkan luka tanpa aba-aba.
Hingga di sela-sela keramaian atas kesakitan ini, kalimat saktimu berbisik, membuatku tak lagi berisik.
"Tetaplah tersenyum walaupun ada banyak hal yang memaksamu untuk menangis,
An." Ucapmu sambil tersenyum tulus kepadaku. Aku juga tersenyum tulus, benar-benar
tulus.
Todos los derechos reservados