Entah harus darimana aku menulis cerita ini, dikatakan berakhir sepertinya belum saja kita mulai, dan memang tak ada yang memulai. Cerita kita seolah semesta yang sudah mengaturnya untuk prolog bahkan epilog nya pun tak bisa kita kendalikan.
Aku tak tau bagaimana bisa semesta mengizinkan ku berharap padamu, memberi ku kesempatan untuk terlalu peduli tentangmu, untuk kembali mengingat semua perjalanan yang sudah kita lalui... oh bukan sebenarnya hanya aku yang melalui jalan itu, aku yang terlampau memaksa mu untuk sejalan dengan ku sementara di garis takdir sana sudah jelas kita berbeda tujuan.
Bagaimana bisa aku menjadikan mu sebagai peristirahatan ku, sementara kau menjadikan ku sebagai persinggahanmu dan satu hal yang luput dari ku bahwa yang singgah pasti kan pergi.
Aku tak pernah menyalahkan mu karena kau memilih tak menetap, seharusnya sedari awal aku tak perlu menaruh harap, tak perlu menghabiskan waktu ku untuk mengkhawatirkan keadaanmu, tak perlu membuang airmata untuk mu.
Ini bukan salahmu atau salahku, terkadang waktu memang misteri membiarkan kita untuk saling mengenal, berbagi cerita, pengalaman bahkan masa depan.
Sedari awal... iyaaa harusnya dari awal aku bisa mengontrol rasa itu, sedari awal harusnya aku langsung belajar mengikhlaskan mu karena apa yang datang suatu saat pasti kan pergi.
Lucu... kita tak pernah menulis di buku yang sama atau melukis di kanvas yang sama, tapi kenapa aku menganggap kamu pun ikut andil menulis kisah ini, menggoreskan walau itu setitik tinta di kanvas itu.
Lucuuu bagaimana bisa aku seolah melepaskan mu, dan kita memang tak pernah terikat barang sedetik saja tidak.
Dan pada akhirnya aku sadar ternyata cerita ini aku sendiri yang memulai, aku iyaaa aku yang membuat alur cerita ini dengan se enaknya menjadikan mu tokoh utama dan sekarang aku menertawai diri sendiri, aku terjebak dalam kisah semu yang didalangi oleh ego ku sendiri.
Mei, 15-2020
~tata~
"Di tempat ini, anggap kita bukan siapa-siapa. Jangan banyak tingkah."
-Hilario Jarvis Zachary
Jika Bumi ini adalah planet Mars, maka seluruh kepelikan hidup Ratu Marsha adalah lontaran partikel debu yang terus beterbangan di planet keempat tata surya.
Jangan bayangkan hidup Matcha berlangsung indah seperti ratu yang keinginannya selalu terpenuhi dengan harta warisan melimpah.
Matcha ... jauh dari segala standar yang diimpikan oleh banyak gadis. Hidupnya menyeramkan dan semakin seperti neraka setelah bertemu Hilario Jarvis Zachary pada malam suram di sebuah ruang penyiksaan yang membawa Matcha terjebak dalam Asrama 665 Universitas Pakubandanu.
Di kampus, tak ada lagi Matcha dengan pakaian lusuh, usang, dan kedodorannya. Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPB hanya mengenal Ratu Matcha yang cantik, sensual, mempesona, juga dengan tingkat kesongongan yang melebihi tingginya Olympus Mons di planet Mars. Para lelaki mata keranjang di UPB tidak tahu kalau Matcha yang senang berpenampilan menggoda itu adalah seorang istri dan ibu dari bayi berusia enam bulan.
(FOLLOW AUTHOR SEBELUM MEMBACA! BEBERAPA PART DIPRIVATE SECARA ACAK)
Start: 17 Juli 2024
End:
WARNING: 18+
AN: Ambil baiknya, buang hal buruknya🧚♀️
[harsh words, violence, sexuality, and criminality]