Bersatu Untuk Bahagia

Bersatu Untuk Bahagia

  • WpView
    LECTURAS 16
  • WpVote
    Votos 3
  • WpPart
    Partes 1
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación lun, jun 8, 2020
WpInfo
Ficción
Romance
"TOLONG!!!" "Rafa?" Aku terkejut ternyata orang Yang meminta tolong adalah Rafa. Tanpa berfikir panjang aku langsung menghampiri Rafa yang saat ini penuh luka di sekujur tubuhnya. "Kamu kenapa Raf?" Tanyaku dengan air mata yang sudah membasahi pipi mulusku Belum sempat Rafa menjawab, datanglah beberapa pria berbadan besar yang sangat menyeramkan. Ternyata dibalik para pria tersebut munculah seseorang yang memakai penutup wajah. Orang tersebut membuka penutup wajahnya dan membuat aku terkejut "Kamu?".
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • FARZAA
  • ALBARISUS ✔
  • my bad boy
  • SKRIPSUIT  ✔
  • No Longer Mate
  • DERSIK
  • Because | ft. MARKLEE✔[ON GOING]
  • BEFUDDLES (SELESAI)
FARZAA

"Kenapa di nama panggilan lo, huruf 'A' yang terakhirnya ada dua?", kata gadis itu sambil menengok orang yang ditanyanya barusan, yang kini tengah berada di sampingnya. Ia sempat kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan gadis yang berada di sampingnya itu. Pasalnya hanya dia yang memerhatikan namanya dan berani bertanya kepadanya. "Ngapain lo mikirin nama gue? Gak penting banget." Jawab Farzaa akhirnya, tanpa melihat ke arah lawan bicaranya. Gue pokoknya harus tahu, guamamnya dalam hati. "Eh iya sih, yang penting kan, kita bisa menghasilkan uang, kita punya uang, dan kita juga bisa menikmati uang kita." gadis itu tertawa sebelum mengucapkan kalimatnya yang baru ia lontarkan. Ia sungguh tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari gadis itu barusan, tapi ia bersikap seolah biasa saja dan berkata "Gak semua orang bahagia karena uang. Dan gak seharusnya juga lo terus jadiin seolah-olah uang adalah segalanya dan uang sebagai pemeran utama dalam kehidupan lo". Gue harus ubah cara pikir lo, batinnya. Sebelum gadis itu menjawab, ia melanjutkan perkataannya. "Uang itu salah satunya. Bukan satu-satunya", ia tersenyum dan berbicara setenang mungkin. "Lalu apa?", balasnya dengan gugup setelah mendengar penuturan laki-laki di sampingnya, yang ia sendiri tidak menyangka tanggapannya akan seperti itu. "..."

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido