Di Bawah Langit Ibu Kota

Di Bawah Langit Ibu Kota

  • WpView
    Reads 79
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Sep 5, 2020
Di bawah langit ibu kota yang lebih kejam dari ibu tiri, orang-orang mengadu nasib mereka. Di bawah langit ibu kota yang gersang, terlahir bayi-bayi merah yang tidak dapat memilih dilahirkan oleh siapa. Di bawah langit ibu kota, semua orang bermain dengan dadu keberuntungan masing-masing. Di bawah langit ibu kota, si kaya dan si miskin menjalani hidup mereka sendiri-sendiri. Tetapi mereka adalah Krisna dan Satine. Selain jenis kelamin yang tentu berbeda, latar belakang sosial mereka jauh berbeda. Krisna yang kokoh, gigih, dan pekerja keras jauh dari bergelimang harta. Satine yang lembut, elegan, dan rupawan mampu mendapatkan segalanya. Bagi Krisna, Satine adalah bukti dari sebuah kalimat "uang bukan segalanya". Memiliki segalanya tapi tak bahagia, apa gunanya? Sayangnya, Krisna dan Satine belum tahu pasti di mana kebahagian mereka. Cita-cita dan cinta, tawa dan air mata, serta suka dan duka sepasang remaja naif itu berusaha memahami dunia. Bahwa masalah yang tampak kecil bisa jadi besar, bahwa dunia tak melulu hitam dan putih, bahwa ada hal yang mampu menyembuhkan luka dunia, yaitu cinta. Credit: Cover by Canva
All Rights Reserved
#818
sosial
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Jakarta Forever
  • Jejak Hati di Persimpangan Takdir
  • [COMPLETE] MASK: Love and The Secret of Life
  • Langit Senja [end]
  • Terperangkap di dalam rasa yang salah

Di bawah langit yang berwarna oranye keemasan, mereka berlarian di trotoar yang penuh retakan, berteriak seperti anak-anak yang baru saja dibebaskan dari sangkar besi bernama sekolah. Beberapa dari mereka menggenggam pilox, mencoret dinding dengan tulisan besar: "Jakarta Forever." Sebuah doa? Atau hanya sekadar luapan emosi remaja yang mabuk kebebasan? Sementara itu, Jakarta merintih perlahan. Bagian utara kota hampir tenggelam, meninggalkan puing-puing yang berusaha tetap mengapung di atas air coklat yang berbau lumpur dan garam. Gedung-gedung di sana tidak lagi megah, hanya bayangan suram dari kejayaan yang semakin pudar. "Jakarta bakal ada nggak sih lima tahun lagi?" tanya seorang anak yang begitu peka dengan lingkungan sekitarnya.. Namun keempat temannya itu malah menertawakannya. "Ngapain mikirin yang kayak gitu, Rud? Itu mah urusan orang tua yang berdasi di atas sana. Kita cukup hidup dan senang-senang aja." Tapi Rudi tak tertawa. Matanya malah dipenuhi oleh tanya. "Jika Jakarta tenggelam, apa gunanya semua impian ini? Apa artinya mengejar masa depan jika tanah tempat berpijak tak lagi ada?" demikian isi kepala Rudi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines