Di bawah langit yang berwarna oranye keemasan, mereka berlarian di trotoar yang penuh retakan, berteriak seperti anak-anak yang baru saja dibebaskan dari sangkar besi bernama sekolah. Beberapa dari mereka menggenggam pilox, mencoret dinding dengan tulisan besar: "Jakarta Forever." Sebuah doa? Atau hanya sekadar luapan emosi remaja yang mabuk kebebasan? Sementara itu, Jakarta merintih perlahan. Bagian utara kota hampir tenggelam, meninggalkan puing-puing yang berusaha tetap mengapung di atas air coklat yang berbau lumpur dan garam. Gedung-gedung di sana tidak lagi megah, hanya bayangan suram dari kejayaan yang semakin pudar. "Jakarta bakal ada nggak sih lima tahun lagi?" tanya seorang anak yang begitu peka dengan lingkungan sekitarnya.. Namun keempat temannya itu malah menertawakannya. "Ngapain mikirin yang kayak gitu, Rud? Itu mah urusan orang tua yang berdasi di atas sana. Kita cukup hidup dan senang-senang aja." Tapi Rudi tak tertawa. Matanya malah dipenuhi oleh tanya. "Jika Jakarta tenggelam, apa gunanya semua impian ini? Apa artinya mengejar masa depan jika tanah tempat berpijak tak lagi ada?" demikian isi kepala Rudi.
More details