LUCK iN MAY : Mei Ku

LUCK iN MAY : Mei Ku

  • WpView
    LECTURAS 24
  • WpVote
    Votos 9
  • WpPart
    Partes 2
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación mié, jul 1, 2020
Bukan tanpa alasan, semuanya terjadi setelah kebaikan menghampiri kami. Aku tau Tuhan sedang menguji kita semua. Satu persatu dari mereka mulai pergi dan menghilang. Atau mungkin itu memang keinginan mereka sendiri. Aku bersyukur ada banyak yang datang menghampiri. Tapi bagaimana jika sebenarnya mereka muak di dekat kita? Tak ada jaminan jika orang baik akan selalu baik. Tak ada yang bisa dipercaya selain diri kita sendiri. Kadang pun diri kita sendiri juga sulit dimengerti. ~ Meira Aku menjadi benci dengan namaku sendiri . Andaikan aku dilahirkan lebih lambat 1 hari saja. Tuhan pasti takkan membiarkan semua masalah datang menghampiriku. tapi sekarang, Seakan Tuhan akan mengambil semua yang kupunya - Kamu pikir kamu bisa lari dariku ? lari dari dunia yang telah memberimu kehidupan ? aku selalu menunggu bulan dimana namamu dan namaku tertera. tapi dalam sekejap kau dengan mudah menghancurkan semuanya ? Dan aku akan membiarkanmu ?? Of course not , Forever. ~🙇 Aku menunggu akhir dari semua ini. Ini tentang Mei dan kehidupanya dan bagaimana aku datang menemukanya.
Todos los derechos reservados
#117
new
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Memories in Moon
  • I'm broken [BHS#1]✓
  • Restu Tuhan
  • Unforgettable [Completed]
  • Become an Extra or Main Character [END]
  • Alur Kehidupan [REVISI]
  • Sebuah Rasa
  • Perfect Queen
  • Misunderstand
  • Our Times (Completed)

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido