aku tetap memilihmu

aku tetap memilihmu

  • WpView
    Reads 39
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Sep 24, 2020
ku langkahkan kaki ku ke tempat yang ku tuju sekarang ini tempat apalagi kalau bukan tempat menuntut ilmu tapi langkah ku di hentikan oleh seorang pria yang memiliki wajah tampan, pintar tentunya saja di dikagumi semua wanita termasuk aku juga😊siapa lagi kalau bukan romi anggara. "alma kata kawanmu kau menyukaiku dan aku juga menyukaimu, bagaimana kalau kita pacaran??" ucap romi dengan senyumnya yang membuat semua wanita meleleh. "aku memang menyukaimu ga tapi aku gak mau kita pacaran lebih baik kita berteman seperti biasa ok!!!!😔"ucapku lesu bagaimana gak lesu coba orang yang kita suka nembak kita tapi kita malah jawab "gak bisa" kalian tau sendiri lah alasan kan. tapi kenapa? karena orang tuamu? ucap romi lagi bukan ucapku terus kenapa? ucapnya dengan suara agak meninggi. aku pun menjelaskan padanya alasanku sebenarnya kenapa aku menolaknya. karena aku..... baca terus sampai habis insya allah ada pembelajaran yang dapat di ambil dan jangan baper😂😂😂😂
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tingkat Tiga
  • BarraKilla
  • ALA
  • Aisyah
  • Aku Tersentuh Cinta
  • Home (Completed) (Repost)
  • RAVASYA [END]
  • Viko OR Vito
  • ON SIGHT (Completed)
  • My Dear,is the Perfect "Husband"

"Kenapa ya mbak ada orang yang cakep banget gini di dunia?" jawabnya sembari menunjuk ke arahku. Mataku membulat. Bukan karena dia mengataiku sebagai perempuan yang cukup cantik, namun karena perubahan panggilan yang dia berikan padaku. "Mbak?" tanyaku memastikan. Alih-alih menggeleng atau mengelak, Rafka justru langsung mengangguk. "Iya. Mbak Caca." "Ngapain ikut panggil gue mbak?" "Biar lebih deket aja. Lo kan dipanggil mbak sama Keenan." "Ya dia kan adik gue." Balasku sengit. "Ya gue mau ikutan, Mbak. Kedengaran lebih gemes." Aku memutar bola mata jengah. "Gemes-gemes apaan. Lo mau jadi adik gue juga?" "Kalo jadi pasangan lo aja gimana?" "Kalo gitu jangan panggil mbak." Rafka menegakkan tubuhnya. "Lo serius?" "Soal apa?" "Lo mau jadi pacar gue." "Siapa yang bilang?" tanyaku berpura-pura bingung. "Tadi kak. Lo bilang gue jangan panggil lo 'mbak' kalo nggak mau dianggap jadi adik." "Artinya lo mau kan jadi pacar gue?" lanjutnya menuntut jawaban.

More details
WpActionLinkContent Guidelines