Revenge

Revenge

  • WpView
    Reads 176
  • WpVote
    Votes 28
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadMatureComplete Fri, Aug 7, 2020
Bagaimana jika orang yang selama ini kau percaya adalah seorang psikopat yang menjadi penyebab kematian orangtua mu. "kau benar-benar melakukan itu" "Ya... lalu apa maumu hah" "aku benar-benar membencimu aku akan membalas mu" "Kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya" "Apa? apa lagi yang harus aku jelaskan Hyung!!?" "Kau bodoh... kenapa tidak mengatakan sejak awal kebenarannya!" "Mian" "Aku yang harusnya minta maaf! hah apa kau ingin membuat aku semakin merasa bersalah!! apa kau ingin aku hidup dengan baik sedangkan kau hiks hiks. Mian aku benar-benar minta maaf kumohon maafkan aku" "Kau tidak bersalah aku yang terlalu bodoh seharusnya aku tidak membiarkan kau tau tentang semua ini" "Khajima...jebal andweeee!!!!"
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • WHY DOES MY BROTHER HATE ME?  [REV] √
  • Blood Sweat And Tears
  • Could I?
  • King of Demigod : Into The New World
  • Let Me Save You [Vkook]  (END)
  • the mafia boss's final mission - Sequel
  • Always Okey
  • IDOL MY LOVE

⚠️DALAM TAHAP REVISI ⚠️ [SUDAH TAMAT] FOLLOW TO READ READER!!! Sejak kepergian kedua orang tuanya dalam sebuah kecelakaan tragis, kehidupan seorang gadis muda berubah menjadi mimpi buruk. Ia tinggal bersama ketujuh kakaknya-orang-orang yang seharusnya menjadi pelindung dan penghibur, namun justru menjadikannya kambing hitam atas kehilangan mereka. Tanpa bukti dan tanpa alasan yang masuk akal, ketujuh kakaknya menuduhnya sebagai penyebab kematian orang tua mereka. Hati yang dulu penuh kasih berubah menjadi bara amarah yang terus membakar, menciptakan jurang dalam keluarga mereka. Gadis itu hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah yang tak pernah ia pahami, terpenjara oleh luka yang ditinggalkan oleh keluarga sendiri. "Apa salah ku?" ucapnya dengan suara lirih, tak mengerti mengapa ia harus menanggung semua ini. "Oppa, maafkan aku... hiks." "Arghhh! Jangan siksa aku lagi!" teriaknya dalam ketakutan, tubuhnya gemetar setiap kali langkah kaki para kakaknya mendekat. "Oppa... tolong aku... bantu aku... hiks..." "Eomma... Appa... aku rindu... bawa aku pergi... hiks..." Hanya rasa rindu yang menjadi temannya setiap malam. Rindu akan pelukan hangat sang ibu, dan suara tenang sang ayah. Di tengah gelapnya kebencian yang terus membayangi, apakah masih ada secercah harapan untuk gadis kecil itu menemukan cahaya dan kasih yang hilang?

More details
WpActionLinkContent Guidelines