Inner Voice

Inner Voice

  • WpView
    Reads 242
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Nov 2, 2023
Setiap insan memiliki kesempatan. Banyak waktu yang dapat diluangkan. Namun semua kesempatan tidak lepas dari kemauan. Kata hati dan kata pikiran mungkin pernah tidak sejalan. Hati menginginkan untuk melakukan kesempatan, tapi terkadang pikiran menolaknya. Seperti itulah yang dialami Farahdina Zahara. Seorang gadis manis nan cantik yang bimbang atas pilihannya. Pikirannya memaksa untuk berhenti namun hatinya terus mengusik. Farah dibuat jatuh cinta oleh seorang laki-laki yang pernah dia impikan. Tapi itu sekaligus menjadi sebuah keraguan bagi dirinya. Apakah Farah akan mengikuti logikanya atau mengikuti kata hatinya?
All Rights Reserved
#3
aff
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tsuroyya; Mengejar Mentari di bawah Purnama
  • Rindu Dalam Seuntai Tasbih
  • Takdirku Adalah Bersamamu
  • Kembali Bersamamu (END)
  • Rasa Dalam Sujudku
  • Tahajjud Cinta [END]
  • Tertulis Dalam Doa
  • Bukan Aku yang Dia Inginkan || TERBIT ✓
  • Kejarlah Daku Kau Ku Ghosting (TAMAT)
  • ZARAIDEN [End]

kita pasti pernah merasakan friendzone. kata orang, tidak mungkin dalam hubungan persahabatan antara laki-laki dan perempuan tidak ada yang menyimpan rasa. entah salah satu atau bahkan kedunya. "Jika memang dia jawaban atas doa-doamu, bukankah kau memang harus menerimanya, Lif?" "Lalu, bagaimana jika ternyata aku menyebut nama lain dalam doa-doaku?" "Apa nama lain itu namaku, Lif?" dengan suara yang begitu lirih ia bertanya Gadis itu mengangguk, "Lif, aku memang menaruh harap padamu. Aku juga menyebut namamu disetiap sujudku. Namun, ada hal lain yang membuat aku tidak bisa melanjutkan harapanku" "Kalimatmu justru tidak memberikan jawaban apa-apa, Ham. Aku kecewa, kau terlalu pengecut. Aku benci itu" Haruskah Alif berbalik arah? Meninggalkan semua yang berkaitan dengan citanya dan memilih hati yang membuatnya menjadi perempuan istimewa? Namun kenyatan yang ia jumpai begitu memilukan. Hatinya mungkin bisa ia genggam, namun tidak dengan hari-hari di masa depannya. Jangan berliku macam apalagi yang harus ia tempuh? Apakah logikanya lemah setelah itu? Seperti perempuan kebanyakan, akankah ia mengandalkan perasannya? Mari simak kisahnya Salam Friendzone LA_IN

More details
WpActionLinkContent Guidelines