Starting From A Pesantren

Starting From A Pesantren

  • WpView
    GELESEN 2,324
  • WpVote
    Stimmen 197
  • WpPart
    Teile 14
WpMetadataReadLaufend
WpMetadataNoticeZuletzt aktualisiert Sa., Feb. 20, 2021
[FOLLOW SEBELUM MEMBACA] Saat pertama kali berjumpa dengannya, aku bagaikan berjumpa dengan Saktah, hanya bisa terpana dengan menahan nafas sebentar. -Fahreza Virendra Arrafif Note : cerita ini dapat membuat anda baper berkepanjangan.
Alle Rechte vorbehalten
#90
afi
WpChevronRight
Werde Teil der größten Geschichtenerzähler-CommunityErhalte personalisierte Geschichtenempfehlungen, speichere deine Favoriten in deiner Bibliothek und kommentiere und stimme ab, um deine Community zu vergrößern.
Illustration

Vielleicht gefällt dir auch

  • 10. Saktah
  • Astagfirullah, Husband! [RE-UPLOAD]
  • Alur Bersamamu [Complated]
  • GARMINE
  • Gus Zhafran
  • Couple Youtuber
  • Lelaki Pilihan Ayah & Lekaki Yg Mengagumi Ku [END]✓✓
  • TAUTAN CINTA [ Revisi ]
  • Ijbar [Selesai]
  • Cahaya Cinta.

"Belajar apa hari ini Gus, dengan anak-anak?" "Tajwid. Anak-anak belajar Bacaan istimewa dalam al quran, bacaan gharib." "Kenapa membaca al quran harus dengan tajwid, Gus?" "Perintah Allah. Agar kita menjaga kemurnian Al quran, melafadzkan sesuai hak-hak hurufnya dan menjaga lisan agar tidak terjadi kesalahan yang mengakibatkan terjerumus perbuatan dosa." jawab seorang pria yang dipanggil Gus. Si Wanita yang bertanya tadi tersenyum simpul. "Sepertinya Gus, Perjalanan kisah kita akan serupa dengan salah satu makna bacaan gharib. Yaitu saktah. agar kita sama-sama menjaga kemurnian hati, menjaga hak-hak pribadi kita dan agar kita terhindar dari perbuatan dosa." Pria itu terdiam mencerna ucapan wanita yang duduk di seberangnya. "Saktah?" tanyanya dan Sang Wanita mengangguk. "Iya. Saktah. Aku yakin Gus lebih paham makna saktah. Kita perlu memberi jeda, berhenti sejenak, menekan ego kita sambil memikirkan apakah kita ini benar-benar yang terbaik untuk satu sama lain, setelah itu kembali kita teruskan." jelas Si wanita dan langsung beranjak dari tempat itu. Sang Pria masih duduk sembari menatap kepergian wanita yang pernah ingin dia nikahi. Senyum tipis tercetak di wajahnya, di tengah keramaian kota itu dia bergumam sendiri, "Kamu lupa, jika menemui tanda saktah, bukan hanya harus memberi jeda tapi juga harus menahan napas. Aku belum tau seberapa lama kemampuan manusia bisa menahan napas. Doaku, kamu segera kembali atau aku akan kehabisan napas karena terlalu lama mengamalkan saktah.".

Mehr Details
WpActionLinkInhaltsrichtlinien