Tersesat Menjadi Gus

Tersesat Menjadi Gus

  • WpView
    Membaca 3,814
  • WpVote
    Vote 80
  • WpPart
    Bab 4
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Kam, Jun 18, 2020
Tinggalkan jejak di cerita ini. Jangan lupa hargai karya saya, semoga karyamu dihargai juga. 🙏🏻 Seorang Penjual Tahu yang baik. Tidak pernah berharap dan menyadari bila dirinya diambil mantu Pak Kyai
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#258
pesantren
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • 10. Saktah
  • Saranghaeyo, Gus Tampan [TELAH TERBIT]
  • Transmigrasi Kematian Istri (end)
  • I Love Gus (OPEN PO)
  • Tuntun Aku Gus! (End)
  • Ukhibuka Fillah Ya Zaujati
  • Cinta DyaDra | On Going
  • Dia dan Doa
  • Saranghae, Gus Gibran! [TERBIT]
  • PESANTREN SAKINAH

"Belajar apa hari ini Gus, dengan anak-anak?" "Tajwid. Anak-anak belajar Bacaan istimewa dalam al quran, bacaan gharib." "Kenapa membaca al quran harus dengan tajwid, Gus?" "Perintah Allah. Agar kita menjaga kemurnian Al quran, melafadzkan sesuai hak-hak hurufnya dan menjaga lisan agar tidak terjadi kesalahan yang mengakibatkan terjerumus perbuatan dosa." jawab seorang pria yang dipanggil Gus. Si Wanita yang bertanya tadi tersenyum simpul. "Sepertinya Gus, Perjalanan kisah kita akan serupa dengan salah satu makna bacaan gharib. Yaitu saktah. agar kita sama-sama menjaga kemurnian hati, menjaga hak-hak pribadi kita dan agar kita terhindar dari perbuatan dosa." Pria itu terdiam mencerna ucapan wanita yang duduk di seberangnya. "Saktah?" tanyanya dan Sang Wanita mengangguk. "Iya. Saktah. Aku yakin Gus lebih paham makna saktah. Kita perlu memberi jeda, berhenti sejenak, menekan ego kita sambil memikirkan apakah kita ini benar-benar yang terbaik untuk satu sama lain, setelah itu kembali kita teruskan." jelas Si wanita dan langsung beranjak dari tempat itu. Sang Pria masih duduk sembari menatap kepergian wanita yang pernah ingin dia nikahi. Senyum tipis tercetak di wajahnya, di tengah keramaian kota itu dia bergumam sendiri, "Kamu lupa, jika menemui tanda saktah, bukan hanya harus memberi jeda tapi juga harus menahan napas. Aku belum tau seberapa lama kemampuan manusia bisa menahan napas. Doaku, kamu segera kembali atau aku akan kehabisan napas karena terlalu lama mengamalkan saktah.".

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan