Aku Dia dan Kamu Yang Berbeda

Aku Dia dan Kamu Yang Berbeda

  • WpView
    Reads 137
  • WpVote
    Votes 23
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jul 2, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Kebanyakan orang membuat janji tapi tidak ditepati, ada juga yang membuat janji tapi langsung ditepati. Janji memang hutang tapi apa sama dengan kesepakatan? Lalu bagaimana janji yang sudah terbentuk bertahun-tahun lamanya, akankah masih ditepati. Atau dibiarkan saja? Dan bagaimana jika yang membuat janji itu adalah sepasang anak kecil? Saksikan Cerita perdana saya dengan judul 'AKU DIA DAN KAMU (YANG BERBEDA)' Salam Manis saya, ChocoAlpukat :)
All Rights Reserved
#882
pertemanan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Don't call it love!
  • PROMISE ✓
  • OUR PROMISE
  • TOXIC!
  • the other side
  • ONE MORE
  • À PROPOS DE NOUS [HIATUS]

Semesta rasanya tidak berpihak pada Cyntia. Tidak hanya perusahaannya yang sedang berada dibawah roda kehidupan, tetapi neneknya sakit dan terus memaksanya menikah. Orang yang ia cintai dan mencintainya pun hilang tak ada kabar. Tak ada pertolongan rasanya. Pada akhirnya pilihan terburuk muncul. Ah, mungkin tak bisa disebut pilihan. Ia harus melakukan itu dengan terpaksa. Pria yang melukiskan kehidupan kelamnya pun muncul. Konyol rasanya saat pria itu mengajaknya menikah. *** Aku tak tahu apa itu cinta. Bahkan, saat ini bagiku itu satu kata yang abstrak luar biasa. Baginya rasa yang terasa itu cinta, tetapi mengapa rasanya merusak jiwa raga. Bagiku itu bukan cinta, melainkan suatu rasa yang amat hampa. Akhirnya satu kata menjadi beda makna. "Bukankah kau sangat membenciku?" Tanyaku. Ia diam, tanpa menatap mataku. Secara tak sadar aku tersenyum sinis padanya dan aku berusaha menahan rasa kesalku. "Apakah melemparkan susu basi ke wajahku adalah bentuk rasa suka?" Aku mengungkit masa lalu. Matanya pun mulai menatap mataku. Aku takut dengan wajah itu. Di bawah meja tersembunyi tangan gemetarku. Mataku berpura-pura tegar saat bertemu matanya itu. Aku berusaha bicara meski lidahku terasa kelu. Aku berusaha berdiri tegak meski kakiku tak berdaya. Waktunya pergi dari hadapannya. Aku akan katakan terakhir kalinya. "Jangan sebut itu cinta!" "Aku melamarmu bukan karena cinta. Bukankah, seharusnya kau yang memohon padaku agar kita bisa memanfaatkan satu sama lain?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines