Story cover for 20 Days  by yusayana
20 Days
  • WpView
    LECTURES 95
  • WpVote
    Votes 15
  • WpPart
    Chapitres 5
  • WpView
    LECTURES 95
  • WpVote
    Votes 15
  • WpPart
    Chapitres 5
Terminé, Publié initialement juin 15, 2020
Mataku menerawang setiap sisi pelataran rumah. Namun nihil, bahkan jejak seseorang yang barusan mungkin mengetuk pintu rumahku sama sekali tidak ada. Aku mendengus marah dan berniat menendang pintu, tapi tidak jadi. Secarik kertas hitam lagi-lagi membuatku menyerngit. 

    Hitam? Ditengah malam? , batinku heran dan mulai gelisah

    Aku susah payah meneguk ludah. Kemudian dengan tampang berani yang kupaksakan, Aku memutar badan, menyelidik tajam disetiap sudut pandangan. Sampai pada satu titik aku terdiam. Menimang-nimang apa yang barusan kulihat.

#Nggak pandai bikin deskripsi:v
Tous Droits Réservés
Inscrivez-vous pour ajouter 20 Days à votre bibliothèque et recevoir les mises à jour
ou
#5azure
Directives de Contenu
Vous aimerez aussi
"Bisikan Senior di Lorong Sunyi", écrit par apriani200
22 chapitres En cours d'écriture
Namaku Amira, tapi aku lebih suka dipanggil Mira. Aku baru saja menginjakkan kaki sebagai mahasiswa baru di sebuah fakultas yang terkenal-atau lebih tepatnya, ditakuti-karena senioritasnya yang begitu kuat dan tak kenal ampun. Aku pikir setelah melewati masa PKKMB yang melelahkan itu, hidupku akan mulai berjalan normal, seperti yang kudengar dari cerita teman-teman. Tapi aku salah. Sangat salah. Keesokan harinya, saat pelajaran baru saja selesai, kami dipanggil oleh para senior. Pertemuan pertama berlangsung di dekat kolam perpustakaan yang rindang, tempat yang seharusnya menenangkan, tapi malah membuat dada ini berdebar tak karuan. Suasana terasa tenang, tapi mataku menangkap ada sesuatu yang tak biasa-sebuah bayang gelap yang mengintip di balik senyum mereka. Hari-hari berlalu, dan tempat pertemuan kami bergeser ke lorong yang sunyi dan gelap. Lorong itu seperti ruang antara dunia nyata dan mimpi buruk. Bau lembap yang tajam menusuk hidung, nyamuk beterbangan seperti bayangan yang tak pernah lelah mengawasi, dan lampu remang yang membuat setiap bayangan jadi dua kali lebih menyeramkan. Setiap kali kami dikumpulkan di situ, aku merasa seolah-olah ada mata yang mengintai dari kegelapan, membidik dan menilai. Bisikan-bisikan samar para senior, tatapan dingin yang menusuk tulang, membuatku bertanya dalam hati: apakah ini benar-benar untuk melatih mental, atau sesuatu yang jauh lebih gelap? Aku, yang tubuhnya lemah dan sering sakit, merasa terjebak di tengah tekanan yang menyesakkan. Di antara teman-temanku-Ani yang pendiam tapi kuat, Aini yang selalu cemas, Olifia yang berusaha tegar, dan Ratih yang tak pernah berhenti berharap-kami saling menggenggam tangan dan hati, mencoba menguatkan satu sama lain. "Tapi aku tahu, bisakah kami bertahan?" Bisakah kami tetap berdiri tegak saat bayang-bayang senior terus membayangi dan bisikan itu berubah menjadi ancaman? Atau akan kah kisah kami berakhir di lorong sunyi itu, di mana keberanian diuji dan ketakutan menjadi penguasa?
Vous aimerez aussi
Slide 1 of 9
You Are Mine Ms.Nelson cover
Rumah Biasa : Akhir Datang Lebih Awal cover
Si Manis cover
"Bisikan Senior di Lorong Sunyi" cover
kisah horor: teror jam 12 malam cover
Petaka Kesempurnaan cover
Beautiful Mistake cover
Intoxicating Disaster cover
DEVIL BESIDE YOU cover

You Are Mine Ms.Nelson

55 chapitres Terminé

Tatapan yang tajam dan gelap itu sangat menusuk mataku. Baru kali ini aku melihat seorang pria yang menatapku dengan tatapan tajam dan penuh kebencian. Ditambah lagi, posisiku sekarang sedang terpojok, pria itu mengunci kedua tanganku ditembok dengan tatapan yang masih sama. Terlihat menakutkan saat melihat mata elang yang tajam itu. "Aku adalah satu-satunya orang yang ingin melemparmu ke peti mati.." Suara serak itu keluar begitu saja dari mulutnya. Aku memejamkan mataku takut dan biar ku tebak, itu adalah sebuah kepuasan tersendiri yang dirasakan oleh pria itu. Aku tahu, tidak ada jalan lain untuk melawan karena pria itu benar-benar sudah menemukam mangsa yang selama ini pria itu incar, yaitu aku. ______________