MASHAOL

MASHAOL

  • WpView
    Reads 33
  • WpVote
    Votes 19
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 18, 2020
Orang orang bilang, luka itu membekas. Seperti masa lalu yang kelam dan tidak bisa dihilangkan. Masa lalu itu sama seperti penyakit fisik lainnya. Jika dia diobati, akan menggerogoti tubuh. Jika tidak diobati, akan membuat luka baru lainnya. Banyak orang yang berharap bisa menghilangkan masa terburuknya. Ingin melupakan masa masa terhitam mereka, kekecewaan karena masa lalu yang tidak bisa melawan. Dampaknya, akan menyakiti orang lain yang berada disekitarnya, yang datang untuk menghilangkan sedikit rasa sakit yang mereka rasakan. Pada akhirnya... Semua orang itu menyedihkan. Menyakiti orang yang sudah menjadi bagian dalam hidupnya. Dibenci, dicaci maki, tidak dihargai. Itulah yang mereka rasakan saat semua orang tidak memperdulikannya. Manusia itu seperti tumbuhan. Dirawat sepenuh hati hingga besar, dan disingkirkan begitu saja jika sudah layu. Masa lalu itu akan jalan mengikuti alunan musik, dan hidup yang mereka hadapi. - Caslissa Auristela - {encha_kezia}
All Rights Reserved
#251
rival
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Di Pertemukan
  • DANADYAKSA
  • First girlfriend KENZO
  • Angkasa
  • Love Or Hate(End)
  • Cuaca
  • IGNIS
  • THAKSA
  • Maybe Tomorrow : Penyesalan (On Going)

Hidup bukan tentang seberapa cepat kita sembuh, tapi tentang seberapa tulus kita memilih untuk terus melangkah, meski dalam keadaan belum pulih sepenuhnya. Caca bukan gadis yang sempurna-dan ia tidak sedang berusaha untuk menjadi satu. Ia hanya ingin belajar berdamai dengan masa lalu, dengan dirinya, dan dengan dunia yang dulu terasa terlalu bising untuk hatinya yang rapuh. Selama bertahun-tahun, ia hidup dalam ketakutan yang tak bisa ia ungkapkan. Ia menyimpan amarah, kecewa, dan keraguan pada dirinya sendiri. Tapi pelan-pelan, langkah kecilnya membawanya keluar dari gelap yang lama membungkusnya. Bukan karena semua rasa sakit itu tiba-tiba hilang, tapi karena kini ia tahu bahwa ia tidak sendiri. Melalui kegiatan OSIS, ia belajar suara dirinya juga berharga. Lewat pengalaman volunteer, ia tahu bahwa memberi bukan soal mampu atau tidak, tapi tentang peduli. Dan lewat kehadiran Aji, ia mulai memahami bahwa ia layak dicintai-tanpa syarat, tanpa harus menjadi orang lain. Caca mungkin tidak akan pernah benar-benar melupakan luka yang dulu, tapi kini ia tidak lagi membiarkan luka itu mengatur jalan hidupnya. Ia menoleh ke belakang bukan untuk tenggelam dalam kenangan, tapi untuk mengingat betapa jauh ia sudah melangkah. Ia bukan lagi gadis kecil yang hanya bisa diam saat disakiti-ia telah menjadi pribadi yang tahu cara mencintai, terutama mencintai dirinya sendiri. Pada akhirnya, DiPertemukan bukan sekadar cerita tentang cinta antara dua orang. Ini adalah kisah tentang pertemuan-pertemuan yang membawa makna. Pertemuan dengan teman baru, pengalaman baru, dan yang paling penting-pertemuan dengan jati diri yang selama ini tersembunyi. Caca tidak diselamatkan oleh siapa pun. Ia memilih untuk menyelamatkan dirinya sendiri... dan itu adalah bentuk keberanian yang paling indah. Penulis Calista Maulidina Syofyan

More details
WpActionLinkContent Guidelines