Assalamu'alaikum Rizha

Assalamu'alaikum Rizha

  • WpView
    Reads 356
  • WpVote
    Votes 117
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Nov 13, 2020
"Kak, pokoknya mamah mau kamu ikut tante Ayrana pindah." "Tapi mah ...." Hmm entah berapa kali mamah memaksaku untuk tinggal bersama tante Ayrana, aku bahkan sudah bosan rasanya. Segera aku izin pamit pada mamah, lantas pergi ke kamar. Sesampainya dikamar segera kututup pintu kamarku dan menguncinya, aku menghempaskan tubuhku ke kasur kesayanganku dan kutatap langit langit kamarku, aaaaaaaa ... aku benci situasi ini, di mana mamah selalu memintaku untuk pergi bersama tante Ayrana, aku sungguh tak ingin berpisah jauh dengan mamah, ayah dan adik-adikku. Apa yang harus kulakukan, hiks hiks
All Rights Reserved
#221
puisi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kawin Kontrak? [COMPLETED]
  • My love ' My Enemy [ END ]
  • DANADYAKSA
  • Zidan With Syakira
  • Muhammad abidzar Al-Ghifari
  • SHEFAYRA
  • Assalamualaikum Jodohku
  • Living with Brothers  [TAMAT]✓

[COMPLETED] "Jadi lelaki itu yang akan dijodohkan ibu denganku? Tega sekali, Ibu," gerutuku. Aku semakin membulatkan tekadku untuk menolak ini. Tanpa kusadari, ibu melihat ke arah jendela kamarku dan melihatku kesal. Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu kamar diketuk. "Baby, buka pintu!" Pintanya tegas. Aku pun membukakan pintu. Lalu menelungkupkan badanku di atas kasur. Ibuku menarik kursi belajarku mendekat ke arahku dan memandangiku, lalu berkata pelan padaku. "Kau tahu sendiri kan kebiasaan di sini? Kau juga tahu asal usulmu? Kau paham betul, bagaimana ibumu ini bertahan? Semua karena ibumu ini sepakat dengan norma di sini. Mana mungkin kita bisa hidup cukup seperti ini kalau tidak mengikuti itu semua. Baby, kau tahu itu semua. Harusnya kaupun seperti ibumu ini, ikut arus itu." Melihatku tidak memandangnya, ibu terus mengatakan hal-hal yang sebenarnya kami berdua sama sama tahu. "Ibu menikah dengan bapakmu ketika seusiamu. Dengan itu, ibu bisa memiliki rumah ini dan seperangkat alat jahit. Ibu mampu membesarkanmu, menyekolahkanmu, memenuhi segala keinginanmu, dan tidak pernah menyusahkan orang lain. Kau memang tidak pernah bertemu bapakmu, tapi ibumu ini sudah bercerita tentangnya." "Kita hidup tanpa kekurangan. Bahkan bisa membantu sesama. Kita pun hidup bahagia. Mereka yang juga melakukan ini pun juga sama." "Menikah bukan sesuatu yang salah, Baby." Ibuku mengakhirinya dengan kalimat itu, lalu berdiri hendak keluar kamarku. "Tapi menjanda di usia muda bukan keinginanku, Bu." Balasku sebelum ibu keluar kamar. Ibuku berhenti sejenak, kemudian keluar dari kamarku. Happy reading~ Jangan lupa untuk: √ Vote √ Coment √ Kritik dan Saran Hargai author dengan vote, terimakasi💞

More details
WpActionLinkContent Guidelines