I Love You Dokter (When I Fall for You)

I Love You Dokter (When I Fall for You)

  • WpView
    Reads 402
  • WpVote
    Votes 60
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jun 21, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
yang sudah baca karya saya sebelumnya pasti tahu couple Yuki n Mega kan? Ini adalah cerita sebelum I Love You Dokter. Ini kisah mereka di SMA. "Apa-apaan sih kamu tadi Ki?" tanya Arani, meraih kepala Yuki agar menatap mereka. "Kamu sudah ga waras ya?" "Masih kok" "Terus tadi itu apaan?" "Yuki minta Mega jadi pacar Yuki!" polos, Yuki memang gadis polos dan lugu. Tidak menyadari tatapan ngeri dari dua sahabatnya. Menghela nafas, Yuki berbalik lagi hendak menyusul Mega. "Tapi Mega belom jawab permintaan Yuki." "Yuki... itu namanya bukan pernyataan cinta. Kamu nggak mikir tempat gitu? Nggak ngomong ke kita gitu? Tau-taunya main tembak orang aja. Kamu nggak malu diliatin sama temen-temen yang lain gitu?" omel Arani yang stress sendiri. "Yang namanya pernyataan cinta itu, kamu menyataakan perasaan kamu sama seseorang, terus nanya dia mau nggak jadi pacar kamu. Bukan asal perintah gitu, Yuki..." "Ah... itu kuno!" ujar Yuki singkat, kekeuh dengan pendiriannya. "Kalo pake cara biasa, pasti ditolak." Untuk cerita ini, updet tiap hari senin ya! Because I Love Monday
All Rights Reserved
#887
kisahsma
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • YUKI ( yang mereka tertawakan )
  • Hi Crush! (udah selesai)
  • C I N (T) A (COMPLETE)
  • Ada Cinta di Kota Gudeg
  • ANGGI MAHARANI
  • Ferrell Harland Natio
  • TERPAKSA MENIKAH DENGAN BADBOY ( ORINE )
  • Instagram ~You first and last
  • Because I'm Stupid (End)

Di hari pertama sekolah, Yuki duduk di pojok kelas, nunduk, nggak ngomong. Nggak senyum. Nggak nanya. Nggak nyapa. "Autis," bisik temen-temen. Lalu jadi lelucon. Dia nggak ngerti kenapa mereka ketawa pas dia nggak ngerti giliran baca. Nggak ngerti kenapa mereka narik kursinya waktu dia mau duduk. Nggak ngerti kenapa semuanya kayak berlomba-lomba bikin dia salah. Tapi yang bikin gue ngeri - dia nggak pernah marah. Yuki cuma diam. Setiap hari. Sampai akhirnya, dia ngomong ke gue. Pelan. Kaku. Kayak takut. "Kamu... nggak jijik?" Gue nggak tahu harus jawab apa. Karena sejujurnya - gue telat sadar. Ini bukan cerita tentang jadi pahlawan buat orang kayak Yuki. Ini cerita tentang gue... yang diem aja saat semua orang ngerusakin dia pelan-pelan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines