Wanita setengah baya itu mengusap pelan rahang anaknya itu. Disertai senyum simpul menaruh harapan penuh pada anak dihadapannya yang tak henti-hentinya mengeluarkan air mata.
"Anak laki-laki tidak boleh menangis." Ucap wanita itu.
"Jalani hidupmu dengan layak nak, demi eomma. Kau sudah paham apa yang harus kau lakukan setelah aku pergi bukan? Berjanjilah padaku nak. Jangan pernah biarkan setiap keturunan dari pria itu hidup." Lanjutnya sebelum menghembuskan napas untuk terakhir kalinya dihadapan sang anak.
"EOMMA!!!" teriak anak itu, menyaksikan kematian ibunya sendiri tepat dihadapannya.
Sorot mata penuh kebencian memenuhi kedua netra anak itu,
Sesuai janjinya,
Ia akan membalaskan dendamnya,
Semua demi eomma-nya.
June,2020
‼️F I K S I‼️
𝙄𝙧𝙧𝙚𝙥𝙡𝙖𝙘𝙚𝙖𝙗𝙡𝙚 (adj) : tak tergantikan
🍀🍀🍀🍀🍀
"Buat Kakak," ucap seorang wanita muda mengeluarkan sebuah amplop putih yang tercantum nama sebuah rumah sakit.
"Buat aku? Rumah sakit? Kamu sakit?" tanyanya yang dibalas gelengan kepala oleh sang kekasih.
Angkasa mengernyitkan keningnya, tangannya meraih amplop tersebut dan membukanya. Seketika wajahnya berubah pias seolah darah direnggut paksa dari wajahnya hingga membuat pucat sempurna seiring iris kembar legamnya menelusuri deretan kata yang tertera diatas kertas putih tersebut.
"Aku hamil, Kak. Kata dokter anak kembar dan umurnya sudah 3 minggu." Seiring kalimat itu terucap, nadanya merendah hampir tak terdengar kalau Angkasa tidak memberi fokus padanya.
"Gimana bisa? Senja, kita baru ngelakuin itu sekali. Enggak mungkin langsung jadi. Senja, bilang sama aku. Ini bukan anak aku kan?!"
"Bukan anak kamu? Kakak nuduh aku ngelakuin itu sama orang lain, iya?"
"Gak mungkin. Keluargaku gak punya keturunan kembar. Gak mungkin itu anak aku, Senja! Bilang sama aku, siapa yang udah menghamili kamu?"
Setetes air terjun bebas dari pelupuk mata. Hatinya terluka begitu dalam sebab kalimat yang terucap bagaikan belati yang menyayat setiap lapisan hatinya. Senja sama sekali tidak pernah menyangka jika kalimat itu terucap dari bibir pria yang kerap kali menyatakan besarnya cinta yang dimiliki untuknya. Lantas apa sekarang? Dimana rasa cinta yang selalu digaungkan di telinganya itu? Bahkan Senja mendadak kehabisan kata. Senja seperti tak mengenal sosok didepannya. Asing.
"Gugurin. Kalau kamu masih cinta sama aku, gugurin. Aku bakalan tetap menerima kamu asal kamu gugurin kandungan kamu."
Kalimat terakhir yang Senja dengar sebelum kaki jenjangnya membawa tubuhnya melangkah pergi dari hadapan pria yang dicintainya itu tanpa ada niatan menoleh sedikitpun ke belakang meninggalkan Angkasa yang masih diam seribu bahasa tanpa berniat mengejarnya.