The Precious

The Precious

  • WpView
    Reads 8
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Sep 1, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Apa sih artinya aku bagimu? Mengapa rasa, dan kasta, selalu jadi diskriminasi sosial antara manusia satu dan kamu? Apa yang membuat berbeda di mata dunia? Berbeda dengan manusia pada umumnya? Jika mereka menatapmu rendah, aku melihatnya sempurna. Sebab kamu adalah jagoanku. Kimmel ialah gadis biasa yang tak pernah memandang siapapun dari kondisi seseorang agar bisa bersahabat dengannya. Pun Robin yang selalu jadi cibiran banyak orang juga teman seantero SMA tempat mereka sekolah. Dan ini karena orang-orang itu yang selalu menilai apa yang terlihat saja. Untuk kemudian, menemukan satu-satunya metafora dalam arti yang bias. _____________ Budayakan Vote dan Komentar kalian setelah baca dan gak stop di Bab pertama aja. ^^ METAFORA Oleh Shineju Copyright Β© 2006 Revisi 2020 Surabaya-Jember
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • PERFECT BAD COUPLE (TERBIT)
  • Sweet Combat
  • AFIKA [ ENDβœ” ]
  • Troublemaker (Tamat)
  • ALSTARAN [END]
  • KEPERGIAN SENJA
  • Summer Triangle  (Revisi)
  • Is LOVE
  • Let Me Love You Longer
  • SUARA BIA (TAMAT)

Beberapa detik tatapan mereka beradu. Athur menajamkan tatapan saat Milla terus menatap matanya. "Jangan berani tatap gue!" "Kenapa? Mata lo sakit?" Bukan mundur. Milla malah semakin maju. "Jangan lihat mata gue!" tegas Athur memalingkan wajah. "Oo jadi lo itu sakit mata? Atau mata lo ada beleknya ya? Dih jorok." "Diam!" Milla tersenyum menantang. Ia pindah posisi di depan Athur sehingga cewek itu semakin leluasa menatap mata Athur. Milla mempertajam penglihatan. Ia penasaran, memang ada apa di mata Athur. "Mata lo baik-baik aja. Gak merah tuh," ucapnya bak seorang dokter spesialis mata. Athur menunduk menatap mata Milla penuh amarah. "Minggir." Satu kata keluar penuh penekanan. Bukan Milla jika segera mundur saat ada hal yang menyenangkan. Milla malah semakin maju dan menatap mata beriris hitam pekat itu. "Jangan-jangan mata lo katarak ya. Atau malah mata lo punya virus menular jadi orang lain gak boleh lihat mata lo," ucap Milla bernada berlebihan. Sampai-sampai ia membelalakan mata, membuka mulut serta meletakkan kedua tangan di pipi. Emosi yang sejak tadi Athur kendalikan kini sudah di ujung tanduk. Baru kali ini ada orang yang berani menatap matanya. Bahkan sedekat ini. Apalagi baru kali ini kata-kata dingin Athur tidak mempan. Saat semua orang menunduk ketika Athur mengedarkan pandangan. Milla berbeda. Saat semua orang takut untuk berbicara dengan Athur. Milla berbeda. Dan saat semua orang diam ketika Athur berbicara. Milla berbeda. Tatapan Athur lurus pada mata Milla. "Gue akan buat lo nyesel berani tatap mata gue!" tegasnya bernada mengancam.

More details
WpActionLinkContent Guidelines