Semburat jingga kemerahan nampak lebih indah dari biasanya. Dari balik jendela kaca, nampak seorang gadis yang tengah berkutat dengan buku buku nya. Sejenak, ia menoleh kan pandangan nya, menatap kagum karya Tuhan yang terbentang dikaki langit. Sebuah senyum terbit diwajahnya. Kapan terakhir kali ia melihat senja seindah ini? Pada akhirnya, ia memutuskan untuk menutup bukunya, mengakhiri kegiatannya, dan berjalan menuju balkon yang ada dikamar nya. Senyum itu masih terpatri sangat rapi di wajahnya.
Senja ini..
Suasana ini..
Tes.. sebuah bulir bening mengalir membasahi pipinya.
Hei hei tunggu dulu, kenapa gadis itu menangis? apa yang terjadi? ada apa dengannya?
Ada kehangatan yang sulit dijelaskan, seperti mentari pagi yang mengintip perlahan di balik kabut tipis. Perutnya seolah menjadi sarang kupu-kupu yang berterbangan tak tentu arah. Aca melihat daya tarik yang tak terdefinisi dalam kesederhanaannya.
~
"Acaaaaaaaaaaaa......" Bima
"Sutttttttttttt................" Aca
"Seperti senja dan jingga yang menyatu di cakrawala dua keindahan yang berbeda, tetapi menciptakan harmoni di langit yang sama"
"Seperti ombak yang berulang kali menyentuh pasir, meski akhirnya kembali ke laut, pasir tetap setia menunggu, tak pernah lelah berharap pada sentuhan yang tak abadi"
Begitu pula hati Aca, yang tanpa ia sadari, diam-diam mulai menunggu kehadiran senyum indah itu lagi.